Libur Akhir Tahun dan Pembelajaran Kontekstual SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Masa libur akhir tahun sering kali dipersepsikan sebagai jeda total dari aktivitas belajar di sekolah. Banyak orang menganggap libur identik dengan berhentinya proses pendidikan formal. Padahal, jika dimaknai secara lebih luas, libur justru membuka ruang pembelajaran yang berbeda, lebih lentur, dan dekat dengan kehidupan nyata siswa. Pada fase ini, anak tidak dibebani target akademik, tetapi tetap memiliki peluang untuk belajar melalui pengalaman sehari-hari.
Bagi sekolah dasar, libur akhir tahun dapat diposisikan sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual. Guru tidak harus memberikan tugas tertulis yang berat, tetapi cukup mendorong aktivitas ringan dan bermakna. Kegiatan seperti membaca buku cerita di rumah, menulis jurnal tentang pengalaman liburan, atau mengamati lingkungan sekitar menjadi bentuk belajar yang sederhana namun kaya makna. Aktivitas ini memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan ritme mereka sendiri.
Pembelajaran berbasis pengalaman ini membantu siswa menghubungkan apa yang mereka pelajari di sekolah dengan realitas di sekitarnya. Misalnya, anak yang mengamati lingkungan rumah dapat mengaitkan pelajaran IPA tentang alam, pelajaran IPS tentang kehidupan masyarakat, atau pelajaran Bahasa Indonesia melalui kegiatan menulis cerita liburan. Dengan cara ini, belajar tidak lagi dipahami sebagai aktivitas terbatas di ruang kelas, tetapi sebagai proses yang terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memperkaya pemahaman, pendekatan ini juga berkontribusi pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Anak belajar mengelola waktu, mengekspresikan perasaan melalui tulisan atau cerita, serta membangun rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitar. Proses ini penting bagi siswa sekolah dasar yang sedang berada pada tahap pembentukan kepribadian dan kemandirian belajar.
Strategi pembelajaran selama libur akhir tahun sejalan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) karena mendorong pembelajaran sepanjang hayat yang tidak terbatas pada sistem formal. Di sisi lain, pendekatan ini juga mendukung SDGs 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) karena memberikan ruang istirahat yang cukup bagi anak, sehingga kesehatan mental dan emosional mereka tetap terjaga. Anak tidak tertekan oleh tuntutan akademik yang berlebihan selama masa libur.
Dengan demikian, libur akhir tahun tidak harus dimaknai sebagai kekosongan pendidikan. Melalui pendekatan yang tepat, libur justru dapat menjadi waktu pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan menyehatkan bagi siswa. Anak tetap mendapatkan pengalaman belajar yang relevan, sekaligus menikmati hak mereka untuk beristirahat dan bermain, sehingga perkembangan akademik dan kesejahteraan mereka berjalan secara seimbang.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti