Literasi Digital: Mengapa Mengutip Itu Penting, Bukan Pusing?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Transisi menuju konsep sekolah dasar tanpa buku tulis sering kali dianggap sebagai sebuah kemajuan mutlak menuju peradaban modern, padahal terdapat risiko penurunan kualitas literasi yang sangat nyata yang mengintai di baliknya. Membaca dan menulis pada media digital memberikan rangsangan berupa cahaya biru yang secara biologis jauh lebih melelahkan bagi mata manusia, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat konsentrasi dan daya tahan belajar siswa secara drastis.
Dalam sebuah survei yang melibatkan ratusan orang tua siswa di sekolah berbasis digital sepenuhnya, ditemukan fakta bahwa sekitar 70 persen responden mengeluhkan anak mereka menjadi lebih cepat bosan dan sering mengalami gejala kelelahan visual sebelum hari sekolah berakhir. Efisiensi yang ditawarkan oleh penggunaan tablet tidak akan memberikan dampak positif yang signifikan jika kemampuan fokus dan kesehatan mata siswa harus dikorbankan demi mengejar efisiensi operasional.
Pendidikan sejati pada dasarnya adalah tentang membangun ketekunan dan kemampuan untuk bergulat dengan teks yang panjang, namun perangkat digital justru sering kali mendorong perilaku membaca secara cepat dan melompat-lompat yang merusak kedalaman pemahaman. Siswa yang terbiasa dengan stimulasi warna-warni dari layar cenderung merasa tidak nyaman dan sulit berkonsentrasi ketika harus berhadapan dengan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran reflektif tanpa adanya rangsangan visual yang konstan.
Selain masalah kesehatan fisik mata, penggunaan layar sebagai pengganti buku tulis juga berdampak pada pola tidur dan ritme sirkadian anak, terutama jika perangkat tersebut digunakan secara intensif hingga sore hari. Kelelahan saraf yang diakibatkan oleh paparan layar yang berlebihan dapat menyebabkan anak menjadi lebih impulsif dan sulit mengendalikan emosi, yang pada gilirannya akan mengganggu dinamika sosial dan proses pembelajaran kolektif di dalam kelas.
Kekhawatiran mengenai penurunan literasi ini juga diperkuat oleh temuan bahwa siswa yang menulis secara digital cenderung menggunakan bahasa yang lebih informal dan kurang memperhatikan kaidah tata bahasa yang benar karena bantuan fitur koreksi otomatis. Buku tulis, secara kontras, memaksa siswa untuk belajar disiplin dalam berbahasa, di mana mereka harus memikirkan ejaan dan tanda baca secara mandiri tanpa bantuan asisten digital yang sering kali membuat otak menjadi malas.
Kita harus berani mengakui bahwa teknologi digital memiliki keterbatasan inheren dalam mendukung proses literasi yang mendalam bagi anak-anak yang masih berada dalam tahap awal perkembangan bahasa dan kognitif. Penggunaan buku tulis dan bahan bacaan fisik tetap menjadi instrumen terbaik untuk mengasah kemampuan fokus, ketelitian, dan kecintaan terhadap bahasa yang tidak terburu-buru oleh tuntutan kecepatan dunia digital.
Sebagai penutup, kebijakan sekolah dasar tanpa buku tulis perlu ditinjau kembali dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan perlindungan terhadap kapasitas literasi siswa. Memastikan bahwa mata dan otak anak tetap mendapatkan waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan media kertas bukan hanya soal nostalgia, melainkan soal menjaga standar kualitas intelektual bangsa di masa depan yang penuh tantangan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah