Literasi Digital vs Algoritma: Memenangkan Pertarungan di Ruang Kelas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pertarungan
memperebutkan perhatian anak SD antara guru di depan kelas dan algoritma di
dalam saku siswa kian sengit, dan sayangnya, sistem pendidikan kita saat ini
sedang kalah telak. Kekalahan ini bukan disebabkan oleh kecanggihan algoritma
semata, melainkan karena kurikulum kita yang membosankan dan tidak mampu
bersaing dengan konten digital yang dinamis. Kegagalan untuk mengintegrasikan
literasi digital yang menarik dan relevan ke dalam pembelajaran membuat siswa
lebih memilih belajar dari "Universitas YouTube" daripada dari
sekolah.
Kita harus mengakui bahwa
kurikulum yang terlalu teoritis dan jauh dari kehidupan sehari-hari siswa
membuat mereka mencari stimulasi di tempat lain. Internet menawarkan kecepatan
dan visualisasi, sedangkan ruang kelas sering kali menawarkan kemonotonan teks.
Literasi digital seharusnya digunakan untuk merevolusi cara belajar, bukan
sekadar mengganti papan tulis menjadi layar proyektor tanpa mengubah metode
pengajarannya.
Analisis pedagogi
menunjukkan bahwa jika literasi digital diajarkan dengan cara yang
menyenangkan—seperti melalui permainan edukatif atau investigasi fakta—siswa
akan memiliki ketertarikan yang lebih besar. Masalahnya, kurikulum nasional
kita masih sangat restriktif dan tidak memberikan fleksibilitas bagi guru untuk
berinovasi dengan media digital. Hal ini menciptakan jurang antara cara anak
belajar secara alami di luar sekolah dan cara mereka dipaksa belajar di dalam
sekolah.
Kurikulum masa depan
haruslah kurikulum yang cair dan mampu beradaptasi dengan tren teknologi tanpa
kehilangan substansi nilai. Guru harus dibekali kemampuan untuk mengkurasi
konten digital sebagai materi ajar, sehingga algoritma bekerja untuk pendidikan,
bukan sebaliknya. Memenangkan pertarungan ini berarti membuat sekolah menjadi
tempat yang paling menarik untuk mengeksplorasi dunia digital secara cerdas.
Kesimpulannya, algoritma
hanyalah alat; kitalah yang menentukan siapa yang mengendalikan alat tersebut.
Jika pendidikan gagal memberikan kendali itu kepada siswa melalui kurikulum
yang mumpuni, maka kita telah gagal menjalankan fungsi dasar pendidikan itu
sendiri. Mari kita ubah ruang kelas menjadi pusat literasi digital yang dinamis
dan kompetitif.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah