Literasi Digital yang Terjebak pada Kepintaran Permukaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kemampuan digital generasi muda sering dipuji sebagai bukti kemajuan zaman. Siswa mampu menguasai berbagai platform dengan cepat dan intuitif. Mereka memahami fitur, tren, dan bahasa visual ruang maya dengan kelincahan yang mengagumkan. Namun di balik kepintaran tersebut, literasi digital kerap berhenti di permukaan. Kecakapan teknis berkembang lebih cepat daripada pemahaman etis. Literasi dipersempit menjadi soal bisa mengoperasikan, bukan memahami dampak. Akibatnya, ruang digital dipenuhi aktivitas tanpa refleksi. Inilah paradoks kepintaran di era digital.
Kepintaran permukaan membuat siswa percaya diri tanpa landasan kritis. Informasi diterima dan disebarkan tanpa proses verifikasi yang memadai. Kemampuan mencari cepat tidak diimbangi dengan kemampuan memilah. Literasi digital kehilangan fungsi sebagai alat berpikir. Etika intelektual menjadi aspek yang terabaikan. Ruang digital pun rawan dipenuhi informasi yang menyesatkan.
Interaksi sosial di ruang maya juga terdampak oleh literasi yang dangkal. Siswa mampu berkomunikasi intens, tetapi tidak selalu bermakna. Bahasa digunakan secara bebas tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicara. Empati tergantikan oleh keinginan untuk tampil dominan. Literasi digital tanpa etika menciptakan komunikasi yang bising. Ruang maya kehilangan kualitas dialog.
Selain itu, kepintaran permukaan mendorong ilusi penguasaan. Siswa merasa tahu banyak karena terpapar informasi terus-menerus. Padahal pengetahuan tanpa pemahaman mendalam mudah goyah. Etika berpikir kritis jarang dilatih dalam kondisi ini. Literasi digital seharusnya membantu membangun kedalaman, bukan sekadar luasnya paparan. Tanpa kedalaman, kecerdasan menjadi rapuh.
Budaya instan memperkuat kecenderungan ini. Informasi dikonsumsi dalam potongan pendek tanpa konteks. Siswa terbiasa membaca cepat tetapi jarang merenung. Literasi digital kehilangan dimensi kontemplatif. Etika berpikir menjadi korban dari kecepatan. Ruang digital pun dipenuhi kesimpulan tergesa-gesa.
Membangun literasi digital yang utuh membutuhkan perubahan pendekatan. Kepintaran teknis perlu disertai latihan refleksi dan empati. Siswa perlu diajak melambat di tengah arus cepat. Kesadaran etis tumbuh dari kebiasaan bertanya dan merasakan. Tanpa itu, literasi digital tetap dangkal.
Ketika literasi digital terjebak pada kepintaran permukaan, etika sulit berkembang. Tantangan era digital bukan pada kekurangan informasi, tetapi pada kekurangan kebijaksanaan. Literasi sejati adalah kemampuan memahami konsekuensi. Tanpa etika, kepintaran hanya menjadi hiasan. Masa depan digital membutuhkan kedalaman, bukan sekadar kecepatan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah