Literasi Etika: Mengajarkan Bahwa AI Bukan Jalan Pintas Menuju Pintar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dinas
Pendidikan Surabaya secara resmi meluncurkan modul "Literasi Etika
AI" untuk siswa SD kelas 4-6 bulan ini guna membangun benteng integritas
belajar di tengah mudahnya akses platform digital. Inisiatif ini lahir dari
kesadaran kolektif bahwa AI seringkali disalahartikan oleh siswa sebagai
"lampu ajaib" yang bisa memberikan jawaban instan atas segala
kesulitan, padahal kepintaran sejati dibangun melalui proses belajar yang
berliku. Modul ini mengajarkan siswa bahwa AI hanyalah alat bantu bantu teknis,
dan menggunakan hasil AI tanpa modifikasi kritis adalah bentuk kegagalan
belajar yang merugikan diri sendiri. Fokus utama program ini adalah
mengembalikan esensi belajar pada penguasaan kompetensi, bukan sekadar penyelesaian
tugas administratif.
Secara filosofis,
pendidikan dasar adalah fase krusial di mana otot-otot berpikir anak sedang
dibentuk, sehingga ketergantungan pada AI tanpa kendali bisa mengakibatkan
"atrofi mental" atau pelemahan daya pikir permanen. Pendidikan moral
dalam modul ini bertindak sebagai pelatih mental yang mengingatkan siswa bahwa
rasa sulit saat belajar adalah tanda bahwa otak mereka sedang berkembang secara
sehat. Ketika seorang siswa SD memilih untuk menggunakan AI secara jujur hanya
sebagai sumber referensi tambahan, ia sebenarnya sedang mempraktikkan
integritas yang lebih tinggi daripada sekadar menghafal materi. AI harus
dipandang sebagai cermin yang menunjukkan apakah seorang siswa memiliki rasa
tanggung jawab terhadap masa depan intelektualnya sendiri.
Dalam modul
"Literasi Etika AI", siswa diberikan pemahaman teknis bahwa AI
bekerja berdasarkan pola data, bukan berdasarkan pemahaman nurani atau
kebenaran hakiki. Dengan mengetahui kelemahan AI yang bisa menghasilkan
informasi salah (halusinasi), siswa didorong untuk selalu melakukan verifikasi
ulang secara mandiri. Proses verifikasi ini adalah latihan integritas dan
ketelitian yang sangat berharga, karena siswa belajar untuk tidak menelan
informasi secara mentah-mentah. Nalar kritis anak diasah melalui ketidaksempurnaan
mesin, sehingga mereka menyadari bahwa posisi manusia sebagai verifikator
adalah posisi yang tidak tergantikan oleh algoritma secanggih apa pun di masa
depan.
Data lapangan menunjukkan
bahwa sekolah yang secara terbuka mendiskusikan batasan etis penggunaan AI
memiliki angka kecurangan akademik yang jauh lebih rendah dibandingkan sekolah
yang hanya memberlakukan larangan ketat. Hal ini terjadi karena siswa merasa
dihargai prosesnya dan memahami bahwa kejujuran adalah mata uang sosial yang
jauh lebih berharga daripada skor sempurna yang didapat melalui bantuan mesin.
Guru berperan sebagai pemandu yang membantu siswa memilah mana bantuan AI yang
diperbolehkan—seperti mencari ide kerangka tulisan—dan mana yang melanggar
etika—seperti menyalin utuh hasil generator teks. Integritas belajar kini
didefinisikan sebagai kemampuan mengelola hubungan yang sehat antara pikiran
manusia dan kecerdasan buatan.
Modul ini juga melibatkan
peran aktif orang tua melalui aktivitas "Diskusi Meja Makan" tentang
bagaimana teknologi membantu manusia tanpa harus menghilangkan jati diri
sebagai pembelajar. Orang tua diajarkan untuk tidak memberikan tekanan berlebih
pada hasil akhir, melainkan memberikan apresiasi pada upaya anak dalam
memecahkan masalah secara mandiri atau kolaboratif dengan AI secara transparan.
Sinergi ini sangat penting karena lingkungan rumah adalah tempat pertama anak
berinteraksi dengan gawai dan internet. Jika di rumah kejujuran tetap menjadi
prioritas, maka di sekolah integritas belajar akan tumbuh subur menjadi
karakter yang kuat dan tidak mudah goyah oleh godaan otomatisasi.
Selain aspek etika,
literasi ini juga mencakup aspek teknis tentang bagaimana memberikan
"prompt" atau perintah yang menuntut AI untuk memberikan penjelasan
proses, bukan sekadar jawaban akhir. Misalnya, siswa diajarkan meminta AI untuk
"jelaskan langkah-langkah memecahkan soal ini" daripada "berikan
jawaban soal ini". Cara berinteraksi seperti ini melatih pola pikir
prosedural dan sistematis pada anak, yang merupakan kompetensi penting dalam
berpikir komputasional. Dengan demikian, AI benar-benar bertransformasi menjadi
tutor pribadi yang cerdas, sementara integritas belajar tetap terjaga karena
fokus tetap pada pemahaman langkah-langkah solusi oleh siswa itu sendiri.
Sebagai penutup, kita
harus menekankan kembali bahwa kepintaran sejati tidak bisa diunduh atau
dihasilkan hanya oleh perintah AI, melainkan harus diperjuangkan melalui
ketekunan dan kejujuran dalam berproses. Sekolah dasar memiliki tugas suci
untuk menjaga agar teknologi tetap berada di posisi sebagai pelayan nalar,
bukan penguasa atas pikiran anak-anak kita. Jika integritas sudah tertanam kuat
sejak dini, maka AI akan menjadi alat yang mempercepat kemajuan peradaban;
namun tanpa integritas, ia hanya akan menjadi alat perusak karakter bangsa.
Mari kita bimbing generasi muda Indonesia untuk menjadi tuan atas teknologi
mereka sendiri melalui integritas belajar yang tanpa kompromi demi masa depan
yang gemilang.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah