Literasi sebagai Tradisi Keluarga dan Evaluasi Dampaknya pada Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Tradisi membaca di rumah kini mulai dipandang sebagai budaya keluarga yang memiliki dampak luas terhadap perkembangan anak. Evaluasi menunjukkan bahwa keluarga yang menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari hari cenderung memiliki anak dengan kemampuan bahasa yang lebih matang. Hal ini tidak terlepas dari intensitas paparan anak terhadap aktivitas membaca dan berdiskusi.
Orang tua yang menjadikan buku sebagai bagian dari keseharian memberikan teladan kuat bagi anak. Evaluasi memperlihatkan bahwa teladan memiliki pengaruh lebih besar daripada sekadar nasihat. Ketika anak melihat orang tuanya menikmati bacaan, rasa ingin tahu tumbuh secara alami dan mendorongnya ikut terlibat dalam kegiatan literasi.
Lingkungan rumah yang kaya dengan bahan bacaan memberikan pengalaman belajar yang tidak terasa memaksa. Anak dapat menjelajah cerita sesuai minatnya, bertanya tentang hal yang belum dipahami, serta mengembangkan imajinasi. Evaluasi ini menegaskan bahwa literasi tidak hanya berfungsi sebagai alat akademik, tetapi juga sarana membentuk pola pikir.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua keluarga memiliki kebiasaan tersebut. Sebagian masih menganggap membaca sebagai aktivitas yang berat dan hanya dilakukan ketika ada keperluan tertentu. Evaluasi mengingatkan bahwa perubahan pandangan orang tua terhadap literasi sangat menentukan masa depan kebiasaan membaca anak.
Penguatan tradisi membaca dapat dimulai dari langkah sederhana. Mengajak anak mengisi waktu luang dengan buku cerita, menyelipkan kegiatan membaca dalam momen kebersamaan keluarga, dan memberi penghargaan atas usaha anak menjadi bentuk dukungan yang efektif. Evaluasi membuktikan bahwa suasana gembira dalam aktivitas literasi membuat anak merasa terikat secara emosional.
Anak yang terbiasa dekat dengan buku sejak kecil cenderung memiliki kemampuan berbahasa yang lebih kaya. Evaluasi menunjukkan bahwa mereka lebih mudah memahami informasi, lebih kritis, dan lebih terlatih menyampaikan pendapat. Hal ini membuktikan bahwa tradisi literasi keluarga berdampak luas, bukan hanya pada aspek kognitif tetapi juga pada pembentukan karakter.
Dengan demikian evaluasi peran orang tua dalam membangun tradisi literasi keluarga menunjukkan hasil yang sangat positif. Keteladanan, konsistensi, dan suasana rumah yang hangat menjadi kunci utama yang memungkinkan anak tumbuh sebagai generasi pembelajar yang berdaya.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah