Mahir Menggeser Layar, Gagap Membaca Makna
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pemandangan seseorang menunduk pada layar ponsel kini terasa biasa. Jari bergerak cepat, mata fokus, dan dunia sekitar seolah menghilang. Banyak yang mengira keakraban ini sebagai tanda kecakapan digital. Namun di balik kelincahan itu, sering kali tersimpan kegagapan membaca makna. Literasi digital justru dimulai saat seseorang berani berhenti sejenak.
Kemampuan teknis membuat orang percaya diri. Mengunduh aplikasi baru terasa seperti prestasi kecil. Mengedit video singkat memberi kepuasan instan. Namun kepuasan ini kerap menutup kebutuhan untuk berpikir kritis. Literasi digital mengajak melampaui rasa bisa. Ia menuntut pemahaman atas apa yang dikonsumsi.
Di jagat media sosial, potongan informasi beredar tanpa konteks utuh. Video pendek memadatkan isu kompleks menjadi hiburan cepat. Tanpa literasi, penonton menerima kesimpulan tanpa proses. Makna digantikan sensasi. Akibatnya, pemahaman menjadi dangkal.
Literasi digital menempatkan membaca sebagai keterampilan utama. Membaca tidak hanya teks, tetapi juga situasi. Membaca maksud di balik konten. Membaca dampak dari setiap unggahan. Proses ini membutuhkan kesabaran yang sering kalah oleh kecepatan.
Banyak kesalahan digital lahir dari asumsi. Informasi dianggap benar karena sering muncul. Pendapat diyakini fakta karena didukung komentar ramai. Literasi digital mengajarkan verifikasi. Ia melatih keberanian untuk meragukan sebelum mempercayai. Sikap ini menjadi benteng dari manipulasi.
Selain itu, literasi digital juga menumbuhkan kesadaran sosial. Setiap konten memiliki audiens beragam. Apa yang lucu bagi satu pihak bisa melukai pihak lain. Kesadaran ini menuntut empati. Teknologi tidak boleh mengikis rasa saling menghargai.
Tanpa literasi, dunia digital hanya menjadi ruang konsumsi pasif. Dengan literasi, ia berubah menjadi ruang refleksi. Pengguna tidak sekadar menonton, tetapi memahami. Tidak hanya menyebar, tetapi mempertimbangkan. Inilah perbedaan mendasar antara bisa dan melek.
Pada akhirnya, kelincahan jari perlu diimbangi ketajaman nalar. Literasi digital bukan soal melarang teknologi. Ia justru mengajarkan cara hidup berdampingan secara bijak. Di sanalah makna menemukan tempatnya.
Penulis: Resinta Aini Z.