Manfaat Belajar Critical Thinking Sejak Dini
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kemampuan berpikir
kritis, juga dikenal sebagai critical thinking, adalah keterampilan penting
yang diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, baik di
masyarakat maupun di sekolah. Mengembangkan
kemampuan ini sejak usia dini dapat bermanfaat bagi anak dalam jangka panjang,
terutama dalam hal pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan evaluasi data.
Berpikir kritis membantu anak-anak
menjawab pertanyaan dan menganalisis, mempertanyakan, dan membuat kesimpulan
yang rasional. Misalnya, saat anak
membaca cerita, mereka tidak hanya memperoleh pemahaman tentang jalan cerita,
tetapi mereka juga belajar menilai perilaku tokoh, memahami sebab-akibat dari
tindakan mereka, dan mempertimbangkan keputusan yang diambil tokoh
tersebut. Anak-anak dilatih untuk
berpikir secara sistematis dan tidak hanya menerima informasi secara instan
melalui proses ini.
Belajar berpikir kritis sejak dini
memiliki banyak manfaat. Pertama, anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam
menyampaikan pendapat karena mereka terbiasa membuat argumen yang masuk akal.
Kedua, karena mereka terbiasa mencari solusi sendiri sebelum meminta bantuan,
mereka lebih mandiri dalam memecahkan masalah dalam pelajaran maupun kehidupan
sosial. Ketiga, berpikir kritis membantu anak-anak menjadi lebih ingin tahu dan
senang belajar karena mereka terbiasa bertanya "mengapa" dan
"bagaimana" tentang hal-hal di sekitar mereka.
Orang tua dan guru dapat mendorong
kemampuan ini dengan mengajak anak berbicara, membuat pertanyaan yang masuk
akal, atau memainkan permainan logika. Sikap kritis sangat penting jika
anak-anak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka tanpa takut
salah. Dengan belajar berpikir kritis sejak dini, anak akan lebih siap
menghadapi tantangan di masa depan, termasuk di dunia kerja yang semakin
kompleks. Tidak hanya cerdas secara akademik, anak yang berpikir kritis juga
akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak dalam mengambil keputusan dan
bertanggung jawab terhadap pilihannya.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest