Melawan Mentalitas "Shortcut": Mengembalikan Marwah Proses di Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mentalitas jalan pintas (shortcut mentality) kini telah menjadi fenomena patologis yang menggejala di kalangan siswa sekolah dasar, menggeser nilai-nilai luhur ketekunan, kesabaran, dan kedisiplinan yang selama ini menjadi pilar pendidikan. Budaya instan yang dipromosikan secara agresif oleh media sosial dan lingkungan digital memberikan ilusi kepada anak-anak bahwa kesuksesan finansial maupun akademik dapat diraih tanpa kerja keras yang melelahkan. Dalam konteks institusi sekolah, hal ini berujung pada merosotnya standar kualitas tugas dan hilangnya rasa bangga siswa atas hasil jerih payah mereka sendiri yang otentik.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa menggunakan cara-cara instan secara perlahan akan kehilangan kemampuan fundamental mereka untuk berinovasi dan berpikir di luar kotak. Inovasi sejati menuntut adanya kesediaan untuk menghadapi kegagalan yang berulang kali, sedangkan mentalitas shortcut hanya mengenal hasil akhir yang berhasil tanpa mau tahu proses trial and error di baliknya. Jika pendidikan dasar gagal mematahkan pola pikir ini sejak dini, kita sebenarnya sedang menyiapkan masa depan bangsa yang penuh dengan imitasi hampa tanpa adanya kreasi orisinal yang mampu bersaing di kancah global yang kompetitif.
Merosotnya ketekunan ini juga berdampak pada rendahnya daya juang siswa dalam menghadapi kesulitan hidup yang tidak terduga, karena mereka terbiasa mendapatkan solusi hanya dengan menekan tombol. Pendidikan dasar seharusnya menjadi tempat di mana siswa diajarkan untuk mencintai kesulitan sebagai tantangan yang harus dipecahkan, bukan sebagai gangguan yang harus dihindari dengan mencari jalan pintas yang tidak beretika. Mengembalikan marwah proses berarti memberikan ruang yang lebih luas bagi eksperimentasi yang gagal, karena di dalam kegagalan itulah sebenarnya tersimpan pelajaran tentang ketekunan yang tidak pernah diajarkan oleh aplikasi jawaban instan.
Dosen dan peneliti di lingkungan S2 Dikdas Unesa terus mendorong kebijakan pendidikan yang memberikan penghargaan lebih tinggi pada portofolio proses dibandingkan hasil ujian akhir semester yang bersifat sesaat. Dengan mendokumentasikan setiap tahapan belajar siswa, mulai dari draf kasar hingga hasil akhir, guru dapat memberikan penilaian yang lebih adil terhadap pertumbuhan karakter siswa yang sesungguhnya. Penekanan pada narasi proses ini akan menyadarkan siswa bahwa setiap usaha mereka dihargai, sehingga keinginan untuk mengambil jalan pintas akan berkurang secara perlahan demi mengejar kepuasan pribadi atas kemajuan yang nyata.
Peran model teladan dari guru dan orang tua sangat krusial dalam memerangi mentalitas shortcut ini, di mana orang dewasa harus menunjukkan bahwa tidak ada kesuksesan yang bermakna tanpa melalui pengorbanan waktu dan tenaga. Seringkali anak-anak hanya melihat hasil akhir dari kesuksesan orang dewasa di layar gawai tanpa pernah diceritakan mengenai perjuangan dan kegagalan yang menyertainya. Kita perlu menceritakan kembali kisah-kisah tokoh dunia yang berhasil berkat ketekunannya agar siswa memiliki orientasi jangka panjang yang positif dan tidak terjebak dalam pragmatisme instan yang merusak masa depan mereka.
Pendidikan karakter harus diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran, dengan menekankan bahwa nilai-nilai seperti ketabahan, ketelitian, dan kejujuran adalah aset intelektual yang jauh lebih berharga daripada kecerdasan teknis semata. Kita harus berani mengatakan kepada siswa bahwa "lebih baik salah dengan jujur daripada benar dengan cara instan", sebuah prinsip yang akan membentuk integritas mereka sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Melawan mentalitas jalan pintas adalah upaya untuk menyelamatkan kemanusiaan kita dari pragmatisme digital yang dingin dan tidak menghargai proses pertumbuhan alami jiwa manusia.
Sebagai penutup, mengembalikan marwah proses di sekolah dasar adalah tugas kolektif untuk memastikan bahwa generasi emas 2045 bukan hanya generasi yang pintar secara teknologi, namun juga generasi yang memiliki daya juang baja. Ketekunan bukan sekadar metode belajar, melainkan filosofi hidup yang akan menjaga martabat seseorang di tengah dunia yang penuh dengan godaan keberhasilan semu. Mari kita dampingi anak-anak kita untuk kembali ke jalan ketekunan, jalan yang mungkin terasa lebih lama dan melelahkan, namun jalan yang akan membawa mereka menuju puncak kesuksesan yang sejati, bermakna, dan abadi.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah