Memanusiakan Kembali Pendidikan Dasar: Perjuangan Menghadapi Otomatisasi Nalar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sebagai penutup dari serangkaian krisis pendidikan yang kita hadapi, tantangan eksistensial terbesar bagi kita semua adalah bagaimana memanusiakan kembali proses belajar-mengajar di tengah kepungan otomatisasi nalar. Budaya instan dan merosotnya ketekunan belajar siswa sekolah dasar adalah alarm keras bagi peradaban bahwa ada sesuatu yang hilang secara fundamental, yaitu sentuhan humanis, kegembiraan dalam berproses, dan makna dari perjuangan intelektual. Pendidikan dasar bukan sekadar pabrik yang mencetak ijazah secara mekanis, melainkan tempat suci bagi pembentukan jiwa, empati, dan karakter seorang manusia yang utuh.
Menjadi penjaga nalar kritis di era kecerdasan buatan berarti setiap pendidik bersedia menginvestasikan waktu, energi, dan emosi yang lebih besar untuk mendampingi setiap kesulitan yang dihadapi siswa. Kita tidak boleh menyerah pada efisiensi teknologi yang seringkali semu jika taruhannya adalah hilangnya karakter dan daya tahan mental generasi bangsa yang kita cintai. Kebangkitan teknologi digital seharusnya menjadi momentum emas bagi kita untuk memperkuat kualitas manusia dengan memanfaatkan alat tersebut sebagai sarana kreativitas, bukan justru membiarkannya menggantikan posisi nalar dalam pengambilan keputusan etis dan logis.
Merosotnya ketekunan belajar di kalangan Generasi Z adalah tantangan sosiologis yang harus dijawab dengan menciptakan ekosistem sekolah yang menyenangkan namun tetap disiplin dan penuh tantangan. Kita perlu menghidupkan kembali aktivitas-aktivitas yang melibatkan seluruh pancaindera siswa, seperti berkebun, seni kriya, atau diskusi kelompok tanpa gawai, guna menyeimbangkan paparan digital yang selama ini terlalu mendominasi. Memanusiakan pendidikan berarti memberikan pengakuan bahwa setiap anak adalah subjek yang unik dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda, yang tidak bisa disamakan dengan kecepatan prosesor mesin yang selalu konstan.
Dosen dan peneliti S2 Dikdas Unesa memiliki tanggung jawab moral untuk merumuskan model-model pembelajaran yang mampu merajut kembali tali ketekunan yang sempat terputus oleh intervensi budaya instan. Penelitian harus diarahkan pada bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif tanpa mengurangi kedalaman pemikiran dan integritas akademik mereka. Kita harus memastikan bahwa di masa depan, universitas tetap menjadi tempat di mana nalar manusia dijunjung tinggi melebihi baris-baris kode algoritma, dan di mana kearifan diwariskan melalui dialog yang hangat antara guru dan murid.
Kesuksesan sejati dalam pendidikan dasar bukan terletak pada seberapa banyak informasi yang bisa dihafal atau seberapa cepat soal bisa dijawab, melainkan pada seberapa kuat karakter ketekunan dan empati yang tertanam dalam diri siswa. Kita ingin melahirkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki ketabahan hati untuk memperjuangkan keadilan di tengah dunia yang serba pragmatis dan instan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang akan menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin, dan pendidikan dasar adalah tempat di mana benih-benih perbedaan tersebut harus mulai ditumbuhkan dengan penuh kasih sayang dan ketelitian.
Masa depan intelektual bangsa Indonesia sangat bergantung pada seberapa berani kita mempertahankan nilai-nilai ketekunan di ruang-ruang kelas sekolah dasar pada hari ini, di saat godaan cara instan begitu kuat menerpa. Kita tidak boleh membiarkan otomatisasi nalar merenggut kemampuan siswa untuk berimajinasi, berefleksi, dan berjuang secara mandiri dalam meraih impian mereka yang otentik. Setiap tantangan belajar yang kita berikan kepada siswa adalah kesempatan bagi mereka untuk melampaui batas kemampuan diri mereka sendiri dan menemukan potensi kemanusiaan mereka yang sejati di bawah bimbingan guru yang bijaksana.
Sebagai penutup, memanusiakan kembali pendidikan dasar adalah perjuangan suci untuk menjaga api integritas dan daya juang tetap menyala di hati setiap anak Indonesia di tengah badai digital yang kian kencang. Mari kita buktikan bahwa kearifan manusia, kesabaran dalam belajar, dan ketekunan dalam berkarya adalah aset yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin secanggih apa pun di masa depan. Di tangan para pendidik yang berdedikasi tinggi inilah, martabat peradaban bangsa ini diletakkan, dan melalui ketekunan belajarlah, kejayaan Indonesia Emas 2045 akan benar-benar terwujud menjadi kenyataan yang membanggakan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah