Membaca Bukan Tugas, Tapi Petualangan
S2dikdas.fip.unesa.ac.id. SURABAYA— Di sebuah pagi yang cerah di SD di Solo,
seorang anak tampak duduk bersila di pojok perpustakaan dengan buku terbuka di
pangkuannya. Tidak ada guru yang menyuruh, tidak ada tugas yang harus
dikumpulkan. Anak itu tersenyum sendiri, larut dalam petualangan seru dari
halaman-halaman bukunya. Pemandangan ini menjadi langka di banyak sekolah saat
ini, ketika aktivitas membaca lebih sering dipaksa melalui tugas-tugas, bukan
dibiarkan tumbuh sebagai kebiasaan alami yang menyenangkan.
Fenomena ini mengangkat satu
pertanyaan besar: "mengapa membaca, yang seharusnya menjadi pengalaman
penuh imajinasi, justru terasa seperti beban bagi banyak siswa?" Di banyak
ruang kelas, kegiatan membaca masih dibatasi oleh kewajiban. Anak diminta
merangkum isi buku, menjawab soal bacaan, atau membaca lantang untuk dinilai.
Aktivitas yang mestinya bebas dan menyenangkan berubah menjadi tekanan, karena
semua diukur lewat nilai dan kewajiban administratif.
Padahal, membaca sejatinya adalah
"petualangan jiwa"—perjalanan melintasi dunia, menjelajah masa lalu
dan masa depan, dan bertemu tokoh-tokoh yang tak pernah dijumpai di dunia
nyata. Anak-anak yang diberi kebebasan memilih buku, tanpa tekanan atau
penilaian, biasanya justru menunjukkan ketertarikan yang tinggi. Buku bukan
lagi tugas, melainkan jendela menuju dunia penuh keajaiban.
Kondisi ini menunjukkan perlunya
perubahan cara pandang. "Guru dan orang tua memiliki peran penting."
Di sekolah, guru bisa menciptakan ruang baca yang nyaman dan membebaskan anak
memilih buku sesuai minatnya. Alih-alih memberi tugas setelah membaca, guru
bisa mengajak siswa bercerita kembali dengan santai, atau membiarkan mereka
membuat gambar dari apa yang dibaca. Di rumah, orang tua bisa membacakan buku
sebelum tidur, atau menyediakan rak buku kecil yang mudah dijangkau anak.
Yang terpenting adalah membangun
relasi emosional anak dengan buku—membuat mereka merasa bahwa membaca bukan
keharusan, melainkan kesenangan. Ketika membaca diposisikan sebagai
petualangan, anak-anak akan dengan sendirinya membuka buku tanpa disuruh. Kini
saatnya pendidikan mengubah pendekatan: "bukan mengajar anak membaca untuk
tugas, tetapi untuk menikmati cerita." Karena saat membaca menjadi bagian
dari petualangan hidup anak, mereka akan membawa kebiasaan itu hingga dewasa.
Bukan hanya menjadi pembaca yang baik, tetapi juga menjadi pembelajar sepanjang
hayat.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Pinterest