Membangun Nalar Kritis Melalui Kurikulum Merdeka: Harapan dan Realitas di Lapangan
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Harapan terhadap Kurikulum Merdeka dalam membangun nalar kritis siswa sangat tinggi di kalangan berbagai pihak terkait pendidikan. Pemerintah berharap bahwa kurikulum ini akan menghasilkan generasi muda yang mampu berpikir mandiri, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak hanya pintar secara akademik tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Sedangkan dunia kerja berharap mendapatkan lulusan yang memiliki kemampuan analitis dan kreatif untuk menghadapi tantangan industri yang terus berkembang.
Salah satu harapan utama adalah terciptanya pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Kurikulum Merdeka dirancang untuk menghubungkan materi pelajaran dengan konteks lokal dan global, sehingga siswa dapat melihat bagaimana pengetahuan yang mereka peroleh dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di sekitar mereka. Harapan lain adalah peningkatan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, serta mengelola diri sendiri – semua yang didukung oleh kemampuan nalar kritis yang kuat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa terdapat jarak antara harapan dan implementasi yang sebenarnya. Banyak sekolah yang masih kesulitan untuk sepenuhnya menerapkan metode pembelajaran yang mendukung pengembangan nalar kritis karena keterbatasan sumber daya dan kemampuan guru. Beberapa guru yang telah mengikuti pelatihan masih merasa belum cukup percaya diri untuk menerapkan pendekatan baru, terutama ketika harus mengelola kelas yang besar dan beragam karakter siswa.
Realitas lain yang dihadapi adalah bahwa perubahan pola pikir siswa dan orang tua tidak terjadi secara instan. Banyak siswa yang awalnya merasa tidak nyaman dengan pembelajaran yang menuntut mereka untuk berpikir secara mandiri, karena terbiasa dengan sistem yang lebih terstruktur dan berbasis hafalan. Begitu pula dengan orang tua yang terkadang merasa khawatir ketika anak-anak mereka tidak menghafal materi secara detail atau ketika nilai rapor tidak langsung menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Meskipun terdapat kesenjangan antara harapan dan realitas, perkembangan yang telah dicapai tidak dapat diabaikan. Banyak sekolah yang menunjukkan kemajuan positif dalam pembentukan nalar kritis siswa, dan semakin banyak guru yang mulai merasa nyaman dengan metode pembelajaran baru. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, harapan terhadap Kurikulum Merdeka dalam membangun nalar kritis siswa dapat semakin dekat dengan realitas di lapangan.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah