Membedah Kurikulum TKA 2026: Standar Mutu atau Beban Baru?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — TKA 2026
dirancang dengan kerangka kurikulum yang menitikberatkan pada literasi kritis
dan penalaran numerik yang kompleks. Pendekatan ini bertujuan untuk menggeser
pola pikir siswa dari sekadar menghafal rumus menjadi memahami logika di balik
sebuah fenomena. Secara konseptual, kurikulum TKA sangat progresif dan sesuai
dengan tuntutan abad ke-21, namun tantangan besar muncul pada tingkat kesiapan
kurikulum harian di sekolah untuk menopang standar tersebut.
Banyak praktisi menilai
bahwa terdapat "jarang instruksional" yang cukup lebar antara apa
yang diajarkan setiap hari dengan apa yang diuji dalam TKA. Hal ini membuat TKA
2026 dirasakan sebagai beban baru karena memaksa guru dan siswa untuk mempelajari
materi tambahan yang tidak tercakup secara mendalam dalam buku teks standar.
Sinkronisasi kurikulum nasional dengan kisi-kisi TKA menjadi kebutuhan mendesak
agar tidak terjadi dualisme pembelajaran di sekolah dasar.
Kandungan soal TKA yang
sangat analitis juga memerlukan kemampuan membaca yang kuat, sesuatu yang masih
menjadi tantangan besar di banyak wilayah Indonesia. Tanpa penguatan budaya
literasi sejak kelas satu, TKA di kelas enam hanya akan memotret kegagalan
sistemik yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, standar
mutu TKA harus dipandang sebagai tujuan akhir dari sebuah proses panjang, bukan
beban instan yang diletakkan di akhir jenjang.
Evaluasi terhadap butir
soal TKA harus dilakukan secara transparan dengan melibatkan pakar kurikulum
dan guru-guru praktisi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa tingkat
kesulitan soal masih berada dalam batas kewajaran perkembangan kognitif siswa
usia SD. Standar mutu yang kredibel adalah standar yang menantang namun tetap
bisa dicapai dengan usaha yang wajar melalui proses belajar di sekolah formal.
TKA 2026 adalah peluang
sekaligus tantangan bagi kurikulum pendidikan kita untuk menjadi lebih relevan
dan berkualitas. Jika dikelola dengan benar, ia akan memacu perbaikan metode
pengajaran di seluruh tingkat kelas; namun jika gagal, ia hanya akan menjadi
beban tambahan yang melelahkan bagi siswa. Mari kita jadikan kurikulum TKA
sebagai panduan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan
bermakna bagi setiap anak Indonesia.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah