Memulihkan Marwah Budi Pekerti: Warisan Etika di Tengah Arus Globalisasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di pengujung
bulan Januari, para budayawan dan akademisi di Surabaya menyuarakan
kekhawatiran mendalam mengenai pengikisan nilai-nilai lokal dalam sistem
pendidikan sekolah dasar yang kini dinilai terlalu berkiblat pada standar Barat
yang sekuler. Diskusi ini menyoroti bagaimana kurikulum sering kali lebih
mengutamakan kompetensi teknis dan skor akademik daripada pembentukan etika dan
tata krama (adab) yang merupakan fondasi masyarakat Timur. Refleksi ini
menggugah kesadaran kolektif kita: pendidikan seperti apa yang kita wariskan
jika anak-anak pintar secara kognitif namun asing dengan nilai kesopanan,
gotong-royong, dan empati sosial? Inisiatif ini mendesak penguatan kembali
pendidikan budi pekerti sebagai ruh dari seluruh proses pembelajaran di bangku
SD guna membentengi generasi Alfa dari krisis identitas bangsa.
Pendidikan karakter tidak
seharusnya dipandang sebagai mata pelajaran tambahan yang terisolasi atau
sekadar hafalan teori moral di dalam kelas, melainkan harus terintegrasi secara
organik dalam setiap interaksi harian di sekolah. Dalam analisis sosiopedagogis,
budi pekerti adalah "social glue" atau perekat sosial yang menjaga
keharmonisan bangsa di tengah gempuran individualisme digital yang kian masif.
Warisan pendidikan masa depan harus mampu menjawab tantangan disrupsi nilai
dengan menanamkan rasa bangga terhadap akar budaya tanpa harus menjadi
eksklusif atau tertutup terhadap kemajuan zaman. Siswa diajarkan bahwa
kecerdasan intelektual tanpa landasan etika yang kuat justru dapat menjadi
senjata yang merugikan masyarakat luas, sebagaimana terlihat pada maraknya
fenomena perundungan siber di kalangan usia dini.
Data dari survei karakter
nasional menunjukkan bahwa sekolah yang memprioritaskan lingkungan belajar yang
aman secara emosional dan penuh rasa hormat memiliki tingkat prestasi akademik
yang jauh lebih stabil dan berkelanjutan. Hal ini membuktikan secara empiris
bahwa etika adalah prasyarat bagi pembelajaran yang efektif, bukan penghambat
kemajuan kognitif seperti yang dikhawatirkan sebagian kalangan. Di akhir
Januari ini, para pendidik ditantang untuk merancang sistem penghargaan yang
tidak hanya berbasis pada nilai ujian, tetapi juga pada perilaku terpuji dan
kontribusi sosial siswa di lingkungan sekolah. Mewariskan budi pekerti berarti
memberikan "kompas moral" yang akan membimbing anak-anak saat mereka
harus mengambil keputusan sulit di dunia yang semakin abu-abu secara etis di
masa depan.
Transformasi pendidikan
budi pekerti menuntut peran guru sebagai teladan hidup (living model),
bukan sekadar instruktur yang membacakan teks peraturan. Di bangku sekolah
dasar, anak-anak cenderung meniru perilaku figur otoritas di sekitar mereka,
sehingga integritas guru dalam bertindak menjadi instrumen pembelajaran yang
paling kuat. Jika guru menunjukkan rasa hormat kepada siswa, konsistensi dalam
kejujuran, dan kelembutan dalam bertutur kata, maka siswa akan menyerap
nilai-nilai tersebut sebagai standar perilaku normal. Warisan etika ini adalah
modal budaya yang tidak ternilai harganya, yang akan membuat lulusan sekolah
dasar Indonesia dikenal bukan hanya karena kepintarannya, tetapi juga karena
kemuliaan akhlaknya di kancah internasional.
Selain peran sekolah,
keterlibatan orang tua menjadi faktor penentu dalam menjaga kesinambungan
pendidikan budi pekerti antara ruang kelas dan ruang keluarga. Seringkali
terjadi diskoneksi nilai di mana sekolah mengajarkan kesederhanaan, namun
lingkungan rumah memamerkan konsumerisme yang agresif. Oleh karena itu,
refleksi akhir Januari ini juga mengajak sekolah untuk membangun dialog yang
lebih intensif dengan orang tua guna menyamakan frekuensi mengenai karakter
utama yang ingin diwariskan. Kerjasama yang sinergis ini memastikan bahwa
anak-anak tidak mengalami kebingungan moral saat berada di dua lingkungan yang
berbeda, sehingga nilai-nilai budi pekerti dapat mendarah daging menjadi
identitas diri yang kokoh.
Dalam skala lebih luas,
revitalisasi adab di tingkat sekolah dasar adalah upaya strategis untuk
memperbaiki kualitas demokrasi dan kehidupan publik di Indonesia pada masa
depan. Generasi yang dididik dengan integritas tinggi sejak kecil tidak akan
mudah tergoda oleh praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme saat mereka memegang
kursi kepemimpinan nantinya. Pendidikan budi pekerti adalah investasi jangka
panjang untuk menciptakan tatanan sosial yang lebih adil, beradab, dan
berperikemanusiaan. Kita harus menyadari bahwa kehebatan sebuah bangsa tidak
hanya diukur dari infrastruktur fisiknya, melainkan dari kedalaman karakter dan
keluhuran budi pekerti rakyatnya yang terpancar dalam setiap tindakan
sehari-hari.
Sebagai penutup,
memulihkan marwah budi pekerti adalah tugas suci yang harus diemban oleh
seluruh elemen bangsa tanpa kecuali. Pendidikan yang kita wariskan harus
menjadi agen perubahan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga
melembutkan hati dan memuliakan perilaku. Mari kita jadikan Januari ini sebagai
momentum untuk kembali ke akar jati diri kita, sembari tetap melangkah maju
menuju masa depan yang modern. Warisan budi pekerti adalah harta karun abadi
yang akan terus hidup dalam sanubari generasi penerus, menjadi cahaya yang
memandu mereka di tengah kegelapan tantangan zaman. Dengan adab yang kuat,
Generasi Alfa Indonesia akan tumbuh menjadi pribadi yang berwibawa dan penuh
cinta kasih.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah