Memutus Rantai Sentimen Primordial melalui Transformasi Pendidikan Karakter berbasis Kosmopolitanisme
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sentimen primordial sering kali menjadi pemicu utama terjadinya polarisasi sosial yang menghambat kemajuan bangsa di tengah persaingan global yang ketat. Keterikatan yang berlebihan pada identitas sempit seperti suku, agama, dan ras dapat membutakan mata hati dari nilai-nilai kemanusiaan universal. Transformasi pendidikan karakter yang berbasis pada semangat kosmopolitanisme menjadi solusi strategis untuk memutus rantai kebencian yang telah berurat akar. Kosmopolitanisme mengajarkan bahwa setiap individu adalah bagian dari warga dunia yang memiliki tanggung jawab moral melampaui batas identitas primernya. Dengan menanamkan kesadaran ini, pendidikan dapat membuka cakrawala pemikiran siswa untuk lebih menghargai keberagaman sebagai sebuah kekuatan kolektif. Transformasi ini memerlukan perubahan mendasar pada metode pembelajaran, materi ajar, hingga budaya organisasi di lingkungan institusi pendidikan kita. Pendidikan karakter harus mampu melampaui sekat-sekat perbedaan guna membangun jembatan persaudaraan yang kokoh di tengah masyarakat yang majemuk.
Pendidikan karakter berbasis kosmopolitanisme mendorong siswa untuk memiliki rasa empati yang luas terhadap penderitaan dan perjuangan manusia di mana pun berada. Hal ini sangat relevan untuk meredam sentimen "kita versus mereka" yang sering dieksploitasi oleh aktor-aktor politik demi kekuasaan. Siswa diajarkan untuk melihat bahwa masalah global seperti kemiskinan dan ketidakadilan adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Melalui literatur dunia, sejarah lintas peradaban, dan diskusi isu internasional, siswa diajak untuk memahami keterhubungan nasib antarmanusia. Penekanan pada kesamaan martabat manusia akan mengikis prasangka negatif yang sering menjadi benih konflik primordial di berbagai daerah. Lingkungan sekolah harus mencerminkan nilai-nilai kosmopolitan dengan menciptakan suasana yang inklusif bagi seluruh peserta didik tanpa kecuali. Guru memiliki peran sentral sebagai model peran yang menunjukkan sikap terbuka terhadap perbedaan dan menolak segala bentuk diskriminasi.
Tantangan dalam memutus rantai primordialisme terletak pada kuatnya pengaruh lingkungan luar sekolah yang sering kali berlawanan dengan nilai-nilai inklusivitas. Media sosial dan lingkungan keluarga terkadang menjadi tempat persemaian narasi eksklusivisme yang sulit untuk ditembus oleh pendidikan formal. Oleh karena itu, sekolah harus proaktif menjalin kerja sama dengan orang tua dan tokoh masyarakat untuk menyamakan persepsi moral. Pendidikan karakter tidak boleh hanya berhenti di dalam kelas, tetapi harus menjelma menjadi aksi nyata dalam interaksi sosial sehari-hari. Proyek-proyek sosial yang melibatkan kelompok masyarakat yang beragam dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan rasa persaudaraan lintas identitas. Dengan pengalaman langsung, siswa akan menyadari bahwa kerja sama tim lebih berharga daripada mempertahankan ego kelompok yang bersifat destruktif. Transformasi ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketabahan dan konsistensi dari seluruh elemen pendidikan di tanah air.
Secara teoretis, kosmopolitanisme tidak berarti menghapus identitas nasional atau lokal, melainkan memperkayanya dengan perspektif kemanusiaan yang lebih luas dan dalam. Seseorang dapat menjadi warga negara Indonesia yang taat sekaligus menjadi warga dunia yang peduli pada isu-isu perdamaian global. Pendidikan harus mampu menjelaskan bahwa mencintai bangsa tidak berarti harus membenci bangsa lain atau kelompok yang berbeda di dalam negeri. Inilah inti dari nasionalisme yang sehat, yaitu nasionalisme yang tumbuh subur di atas tanah kemanusiaan yang universal dan inklusif. Kurikulum pendidikan karakter perlu memuat materi tentang tokoh-tokoh dunia yang telah berjasa bagi kemanusiaan tanpa memandang latar belakang identitas mereka. Hal ini akan menginspirasi siswa untuk mengejar prestasi yang bermanfaat bagi orang banyak, bukan sekadar untuk kepentingan golongannya sendiri. Keberhasilan transformasi ini akan menciptakan masyarakat yang lebih stabil, damai, dan memiliki daya tahan terhadap provokasi politik yang murah.
Pada akhirnya, memutus rantai sentimen primordial adalah perjuangan moral untuk menyelamatkan masa depan generasi mendatang dari kutukan konflik yang berkepanjangan. Pendidikan karakter berbasis kosmopolitanisme adalah investasi peradaban yang akan membuahkan hasil berupa tatanan sosial yang lebih harmonis dan bermartabat. Kita tidak boleh membiarkan putra-putri bangsa tumbuh dalam kebencian yang diwariskan oleh masa lalu yang kelam dan penuh dengan prasangka. Pemerintah perlu mendukung transformasi ini melalui penyediaan sumber daya pendidikan yang memadai dan kebijakan yang mendukung keberagaman budaya. Masyarakat luas juga harus berperan aktif dalam menciptakan ekosistem sosial yang menghargai setiap tetes keringat manusia tanpa memandang asal-usulnya. Mari kita bangun masa depan Indonesia yang lebih gemilang dengan menjadikan pendidikan sebagai alat pemersatu sejati di tengah gelombang globalisasi. Kekuatan bangsa terletak pada kemampuan kita untuk bersatu di atas perbedaan moral yang kita junjung bersama-sama.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.