Menanam Benih Integritas: Siswa SD Diajak Memahami Makna Orisinalitas dalam Pembelajaran
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Proyek pendidikan karakter “Menanam Benih Integritas” telah dilaksanakan di beberapa sekolah dasar di Surabaya dengan tujuan utama untuk membantu siswa memahami makna sebenarnya dari orisinalitas dan bagaimana menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari. Proyek ini dirancang oleh tim ahli pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya dan bekerja sama dengan guru-guru SD untuk mengembangkan metode pembelajaran yang dapat menyematkan nilai-nilai keutuhan dalam berbagai mata pelajaran, bukan hanya sebagai mata pelajaran tersendiri.
Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, siswa diajak untuk menulis cerita berdasarkan pengalaman pribadi mereka daripada meniru cerita dari buku atau film. Guru menggunakan metode pembelajaran yang disebut “cerita dari hati” di mana siswa diminta untuk mengingat momen penting dalam hidup mereka dan mengubahnya menjadi cerita yang unik. Siswa juga mengajarkan untuk menggunakan kata-kata sendiri dan mengembangkan gaya penulisan yang sesuai dengan kepribadian mereka. Hal ini membantu siswa memahami bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk menyampaikan ide dan pesan.
Pada mata pelajaran Seni Budaya, siswa diberikan kebebasan untuk menciptakan karya seni dengan tema tertentu tetapi tanpa contoh visual yang diberikan oleh guru. Misalnya, ketika temanya adalah “Kota Surabaya yang Indah”, siswa diajak untuk mengamati langsung beberapa tempat menarik di kota atau menggunakan ingatan mereka untuk membuat lukisan atau patung kecil yang menggambarkan kota sesuai dengan persepsi mereka sendiri. Guru hanya memberikan panduan tentang teknik dan bahan yang dapat digunakan, bukan tentang bagaimana karya harus terlihat. Hal ini menjadikan setiap karya siswa memiliki ciri khas yang berbeda-beda dan menjadi hasil dari kreativitas mereka sendiri.
Selain dalam mata pelajaran, nilai orisinalitas juga diterapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, klub sains, dan klub bahasa. Di klub sains, misalnya, siswa diajak untuk merancang eksperimen sederhana berdasarkan ide mereka sendiri daripada mengikuti prosedur eksperimen yang sudah ada. Siswa harus membuat rencana eksperimen, menentukan tujuan, dan memperkirakan hasil sebelum melakukan percobaan. Jika hasilnya berbeda dengan ramalan, siswa diajak untuk menganalisis dan membuat perbaikan pada eksperimen mereka.
Setelah enam bulan pelaksanaan proyek, hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang makna orisinalitas dan lebih mampu menerapkannya dalam berbagai aspek pembelajaran. Banyak siswa yang awalnya selalu mencari contoh atau bimbingan rinci dari guru, kini mampu bekerja secara mandiri dan menghasilkan karya yang unik. Tim pengembang proyek berencana untuk membuat panduan pembelajaran yang dapat digunakan oleh sekolah dasar lain di Surabaya dan menyebarkan konsep proyek ini ke seluruh provinsi Jawa Timur.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah