Mencetak Generasi Beradab di Tengah Obsesi Ranking Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Obsesi terhadap sistem peringkat atau ranking sekolah telah lama menjadi budaya yang sulit dihilangkan dalam ekosistem pendidikan dasar di tanah air kita. Budaya ini sering kali memaksa siswa, guru, hingga orang tua untuk terjebak dalam perlombaan prestise yang mengabaikan esensi dari mencetak generasi beradab. Ketika ranking menjadi tujuan utama, fokus pendidikan bergeser dari pembentukan adab menjadi sekadar penguasaan teknik-teknik untuk memenangkan ujian secara administratif semata. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena peradaban sebuah bangsa tidak dibangun di atas deretan angka peringkat, melainkan di atas fondasi karakter masyarakatnya yang beradab. Kita perlu melakukan reposisi terhadap standar kesuksesan di sekolah agar nilai-nilai kesantunan dan integritas kembali menjadi prioritas yang diutamakan.
Sistem ranking yang kaku sering kali menciptakan labelisasi negatif terhadap siswa yang dianggap tidak mampu bersaing di papan atas peringkat kelas secara akademik. Labelisasi ini merusak harga diri anak dan memicu lahirnya rasa benci terhadap institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat mereka merasa diterima. Di sisi lain, siswa yang menduduki peringkat atas berisiko memiliki sifat tinggi hati dan kurang menghargai proses perjuangan rekan-rekannya yang lain. Pendidikan adab seharusnya mampu meniadakan sekat-sekat persaingan yang tidak sehat dan menggantinya dengan semangat persaudaraan yang saling mendukung satu sama lain. Mencetak generasi beradab berarti membekali siswa dengan kesadaran bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang tidak dapat diukur hanya dengan satu dimensi peringkat.
Keberadaban seorang siswa tercermin dari caranya bersikap terhadap guru, menghormati pendapat teman, serta kejujurannya dalam mengikuti setiap proses evaluasi di sekolah. Nilai-nilai ini sering kali terabaikan karena kurikulum yang ada terlalu padat dengan materi instruksional yang hanya menyasar aspek kognitif tingkat rendah saja. Sekolah harus mulai berani menerapkan evaluasi berbasis perilaku yang memberikan bobot signifikan terhadap aspek kesantunan dan kedisiplinan sosial siswa sehari-hari. Pendidik perlu menanamkan pemahaman bahwa menjadi juara dalam kehidupan nyata memerlukan lebih dari sekadar kepintaran logika, namun memerlukan keluasan hati. Lingkungan sekolah yang inklusif tanpa segregasi peringkat akan lebih efektif dalam menumbuhkan benih-benih karakter luhur pada diri setiap siswa dasar.
Peran orang tua sangat vital untuk memutus rantai obsesi ranking dengan tidak menjadikan peringkat sebagai standar utama dalam memberikan apresiasi kepada putra-putrinya. Orang tua harus mulai mengalihkan fokus perhatian mereka pada perkembangan kemandirian, kejujuran, dan kepedulian sosial yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka di rumah. Sering kali tekanan dari rumahlah yang membuat anak merasa terbebani untuk mengejar peringkat tinggi dengan cara-cara yang mengesampingkan nilai-nilai etika. Komunikasi yang harmonis antara sekolah dan keluarga akan sangat membantu dalam menciptakan visi pendidikan yang seimbang antara prestasi dan keberadaban. Jika kedua pihak sepakat bahwa adab adalah hal yang utama, maka tekanan persaingan yang tidak sehat di sekolah akan berkurang secara perlahan.
Sebagai simpulan, upaya mencetak generasi beradab memerlukan transformasi paradigma yang mendalam dari seluruh elemen bangsa yang peduli pada masa depan pendidikan. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara teknis namun kering akan nilai-nilai kesantunan dan penghormatan terhadap sesama. Ranking sekolah hanyalah angka sementara, namun karakter dan adab adalah identitas abadi yang akan menentukan kualitas masa depan bangsa Indonesia di mata dunia. Mari kita kembalikan marwah sekolah sebagai tempat persemaian budi pekerti yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul yang berakhlak mulia. Dengan demikian, peradaban Indonesia yang agung akan dapat terwujud melalui tangan-tangan generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga sangat beradab.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.