Menemukan Matematika dalam Seni Tradisi Trowulan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Selama ini, banyak orang menganggap matematika dan budaya adalah dua hal yang terpisah. Matematika identik dengan angka dan rumus di papan tulis, sementara budaya berkaitan dengan seni, tradisi, dan kebiasaan masyarakat. Namun, sebuah penelitian menarik di Desa Trowulan, Mojokerto, membuktikan bahwa anggapan tersebut keliru. Ternyata, di balik keindahan seni tradisi yang diwariskan turun-temurun, tersimpan konsep-konsep matematika yang telah dipraktikkan masyarakat sejak zaman dahulu.
Penelitian yang dilakukan oleh Agnes Tri Wulandari dan Neni Mariana dari Universitas Negeri Surabaya ini berangkat dari pengalaman pribadi peneliti sebagai warga Mojokerto. Selama menempuh pendidikan dari TK hingga SMA, peneliti tidak pernah menemukan pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal dengan mata pelajaran, terutama matematika. Hal ini membuatnya berpikir bahwa matematika dan budaya sama sekali tidak berhubungan. Namun, keingintahuan muncul ketika peneliti mempraktikkan tari Mayang Rontek dan menyadari ada gerakan tangan yang membentuk sudut tertentu. Pertanyaan pun muncul: apakah budaya-budaya lainnya juga mengandung unsur matematika?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan eksplorasi mendalam terhadap tiga jenis seni tradisi di Desa Trowulan yang terkenal dengan sejarah Majapahitnya. Ketiga seni tersebut adalah bantengan (seni pertunjukan tari), patrol (seni pertunjukan musik), dan patung (seni rupa). Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomatematika, yaitu cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara matematika dan budaya, dengan metode autoetnografi dan etnografi melalui observasi, wawancara dengan pelaku seni, dan studi literatur.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang mengejutkan. Pada seni bantengan, ditemukan konsep membilang dan lingkaran. Gerakan awal penari bantengan yang menginjak tanah dua kali dengan kaki kanan, kemudian dua kali dengan kaki kiri, menunjukkan pola bilangan yang berulang. Sementara itu, gerakan dua banteng yang berputar dengan kepala tetap di tempat membentuk pola lingkaran sempurna. Pada seni patrol, peneliti menemukan konsep simetri pada simbol leak, pola matematika pada ritme musik, operasi perkalian pada hitungan gerakan tarian, serta konsep membilang saat penari menghitung gerakan mereka.
Seni pahat patung di Trowulan juga menyimpan konsep matematika yang diterapkan dalam prosesnya. Para pemahat menggunakan konsep pengukuran dengan meteran untuk membuat patung yang simetris dan proporsional. Lebih menarik lagi, mereka menerapkan konsep skala perbandingan saat membuat sketsa patung dalam ukuran kecil sebelum memahat patung berukuran sebenarnya. Misalnya, jika panjang kaki patung sapi di sketsa adalah enam sentimeter, maka patung aslinya berukuran tiga puluh sentimeter, dengan perbandingan skala satu berbanding lima yang konsisten untuk seluruh bagian patung.
Penelitian ini membuktikan keberadaan etnomatematika dalam kehidupan nyata masyarakat Trowulan. Konsep-konsep matematika sekolah dasar seperti membilang, lingkaran, simetri, perkalian, pola matematika, pengukuran, dan skala perbandingan ternyata telah lama dipraktikkan dalam seni tradisi, meskipun para pelaku seni tidak menyadarinya secara eksplisit. Temuan ini sejalan dengan pandangan D'Ambrosio yang menyatakan bahwa etnomatematika merupakan matematika yang dipraktikkan oleh sekelompok masyarakat berbudaya. Matematika tidak hanya ada di ruang kelas, tetapi juga hidup dan berkembang dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat.
Dampak terbesar dari penelitian ini adalah transformasi pemahaman peneliti sendiri. Dari yang awalnya berpikir bahwa matematika dan budaya tidak ada hubungannya sama sekali, peneliti akhirnya memahami bahwa keduanya berkaitan sangat erat. Temuan ini membuka peluang bagi guru sekolah dasar, khususnya di Mojokerto, untuk mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar konsep matematika, tetapi juga mengenal, menghargai, dan mencintai budaya daerah mereka sendiri. Pembelajaran matematika pun menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan menyenangkan karena menggunakan media yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Sumber: