Menemukan Matematika di Sawah: Pembelajaran dari Aktivitas Petani
Penulis: Neni Mariana
Sumber:
images.google.com
Di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah,
kehidupan petani setiap hari ternyata menyimpan pelajaran matematika yang tak
kalah menarik dibandingkan yang diajarkan di kelas. Melalui penelitian berjudul
“Eksplorasi Konteks Aktivitas Masyarakat Petani pada Pembelajaran Matematika
SD melalui Cerita Dilematis”, Fanny Tri Kusumawardani dan Neni Mariana
(2021) menghadirkan cara pandang baru terhadap pembelajaran matematika di
sekolah dasar: bahwa matematika bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang
kehidupan.
Penelitian ini berangkat dari observasi dan refleksi
peneliti terhadap aktivitas petani yang dilakukan sehari-hari, seperti mengukur
luas lahan, menghitung hasil panen, memperkirakan kebutuhan benih, membagi
hasil kerja, dan menentukan biaya produksi. Semua aktivitas tersebut ternyata
sarat dengan konsep matematika yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif transformatif serta metode
auto-etnografi, peneliti tidak hanya mencatat data, tetapi juga mengalami dan
merefleksikan proses berpikir matematis yang terjadi secara alami di lapangan.
Dari hasil eksplorasi, ditemukan bahwa kegiatan petani
mengandung berbagai konsep matematika dasar, seperti bilangan, pengukuran, dan
perbandingan. Misalnya, ketika petani menghitung jumlah benih yang dibutuhkan
untuk satu petak sawah, mereka sebenarnya sedang menerapkan prinsip
perbandingan dan perkalian. Saat membagi hasil panen secara adil kepada para
pekerja, mereka menggunakan konsep pembagian. Bahkan ketika memperkirakan cuaca
dan waktu tanam, muncul konsep estimasi dan logika matematis sederhana. Semua
ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat lokal kaya akan situasi nyata yang
bisa dijadikan bahan ajar matematika kontekstual.
Hasil penelitian juga melibatkan guru sekolah dasar yang
diminta menanggapi potensi tersebut. Guru-guru menilai bahwa konteks kehidupan
petani sangat sesuai untuk dijadikan bahan pembelajaran matematika karena dekat
dengan keseharian siswa, terutama di wilayah pedesaan. Mereka juga melihat
bahwa melalui pendekatan dilemma story pedagogy, siswa dapat diajak
berpikir kritis dan mempertimbangkan berbagai pilihan dalam situasi nyata,
bukan sekadar mencari jawaban benar atau salah. Misalnya, ketika dihadapkan pada
cerita tentang pembagian hasil panen yang tidak merata, siswa tidak hanya
belajar berhitung tetapi juga menimbang nilai keadilan dan kerja sama.
Implikasi dari penelitian ini cukup signifikan bagi dunia
pendidikan dasar. Guru diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan
melihat potensi lokal sebagai sumber belajar matematika. Pembelajaran yang
semula abstrak bisa menjadi konkret, kontekstual, dan bermakna. Selain
meningkatkan kemampuan kognitif siswa dalam berhitung, pembelajaran berbasis
aktivitas petani juga menumbuhkan kepedulian sosial, sikap gotong royong, dan
penghargaan terhadap profesi masyarakat yang selama ini mungkin dianggap sederhana.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa matematika
sebenarnya hidup di tengah masyarakat. Di sawah, di pasar, di rumah, bahkan di
dapur. Ketika siswa diajak menemukan matematika dalam kehidupan sehari-hari,
mereka tidak hanya belajar memahami angka, tetapi juga belajar memahami
kehidupan itu sendiri.
Sumber Pustaka:
Kusumawardani, F. T., & Mariana, N. (2021). Eksplorasi konteks aktivitas masyarakat petani pada pembelajaran matematika SD melalui cerita dilematis. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 9(4).