Menerjemahkan SDGs dalam Konteks Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Sustainable Development Goals (SDGs) telah menjadi kerangka global yang memberi arah bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hingga tahun 2030. Dalam konteks pendidikan dasar, SDGs tidak hanya menjadi slogan global, tetapi juga landasan transformasi kurikulum dan pembentukan karakter generasi muda. Menerjemahkan SDGs ke dalam pendidikan dasar berarti mengintegrasikan nilai-nilai berkelanjutan seperti keadilan sosial, kepedulian lingkungan, dan inklusivitas ke dalam praktik belajar sehari-hari di sekolah. Jika diabaikan, pendidikan bisa tetap terfokus pada literasi dan numerasi semata tanpa memperkuat kesadaran akan tantangan global masa depan. Oleh karenanya, transformasi ini penting agar siswa pada tahap awal sudah memiliki pemahaman dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
Salah satu cara konkret menerjemahkan SDGs dalam pendidikan dasar adalah melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dengan pembelajaran tematik. Di sekolah dasar, guru dapat menyampaikan tema SDGs dalam mata pelajaran tematik seperti IPS, IPA, dan Pendidikan Kewarganegaraan dengan metode yang bersifat reflektif dan kolaboratif. Misalnya, guru dapat merancang proyek lingkungan sekolah atau bank sampah yang mengajarkan konsep-kehilangan plastik, daur ulang, serta tanggung jawab sosial. Program “Green Indonesia Waste Education” menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dasar dapat memasukkan target SDG 4 (pendidikan berkualitas) sekaligus target terkait lingkungan melalui inisiatif pengurangan dan daur ulang sampah.
Selain itu, pendekatan Education for Sustainable Development (ESD) di sekolah dasar bisa mengembangkan kesadaran sistemik pada siswa. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran luar ruang yang berbasis ESD dapat meningkatkan creative thinking dan sustainable consciousness siswa SD. Melalui kegiatan pengalaman langsung seperti menanam, mengamati siklus air, atau proyek kebun sekolah, anak-anak belajar bukan hanya teori, tetapi juga efek nyata dari tindakan manusia terhadap lingkungan. Dengan demikian, mereka tumbuh menjadi generasi muda yang berpikir kritis, kreatif, dan peduli akan keberlanjutan.
Integrasi SDGs di sekolah dasar juga harus didukung oleh kepemimpinan dan kebijakan sekolah. Studi kasus di beberapa SD di Surabaya menunjukkan bahwa praktik-praktik pembangunan berkelanjutan lebih berhasil ketika sekolah memiliki komitmen kuat dari kepala sekolah dan komunitas. Dalam sekolah-sekolah tersebut, kebijakan ramah lingkungan diadopsi menjadi bagian dari kebijakan sekolah dan diintegrasikan ke kegiatan ekstrakurikuler seperti pelestarian alam, pekan kewirausahaan berbasis komunitas, dan kegiatan apresiasi budaya. Walaupun praktik ESD di beberapa sekolah masih cenderung fokus pada aspek lingkungan, ada juga upaya untuk mengaitkannya dengan aspek sosial dan ekonomi, misalnya melalui kolaborasi masyarakat dan kegiatan kewirausahaan.
Tingkat pemahaman SDGs di kalangan siswa SD dapat ditingkatkan lewat pendidikan karakter yang berbasis nilai global. Program pengembangan karakter di beberapa sekolah dasar telah berhasil menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab sosial, inklusi, dan kerja sama melalui pendekatan praktis dan reflektif. Sebuah studi di SD Khalifah Depok, misalnya, melaporkan bahwa setelah intervensi pendidikan berbasis SDGs, pemahaman siswa terhadap isu kemiskinan, kesehatan, dan tindakan kolektif meningkat signifikan. Pendekatan semacam ini menegaskan bahwa SDGs bukanlah sekadar agenda global yang abstrak, melainkan dapat diinternalisasi ke dalam karakter dan tindakan nyata anak sejak dini.
Namun, menerjemahkan SDGs dalam pendidikan dasar juga menghadapi tantangan. Penelitian tentang kualitas pendidikan dasar di Indonesia menunjukkan bahwa masih ada kekurangan pelatihan guru, keterbatasan sumber daya, dan kesenjangan dalam integrasi SDGs ke kurikulum lokal. Selain itu, adaptasi nilai SDGs membutuhkan inovasi pembelajaran yang terus menerus dan dukungan kebijakan agar tidak sekadar aktivitas simbolis. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat sangat penting tidak hanya untuk memasukkan SDGs sebagai bagian dari kurikulum, tetapi juga untuk memastikan bahwa nilai-nilai global ini membentuk tindakan positif dan berkelanjutan pada generasi penerus.
Penulis: Aida Meilina
Sumber : ChatGPT Image Generator by OpenAI.