Mengajarkan Orisinalitas untuk Dunia yang Terus Berubah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia tempat anak tumbuh hari ini bergerak cepat dan terus berubah. Informasi datang silih berganti tanpa jeda. Dalam arus ini, orisinalitas menjadi nilai yang semakin penting. Bukan karena dunia kekurangan ide, tetapi karena dunia membutuhkan kejujuran. Integritas menjadi penopang agar anak tidak larut dalam arus menyalin. Nilai ini perlu ditanamkan dengan cara yang relevan.
Anak perlu memahami bahwa orisinalitas bukan berarti mencipta sesuatu yang sepenuhnya baru. Ia tentang cara memaknai dan menyampaikan kembali dengan jujur. Pemahaman ini membuat orisinalitas terasa terjangkau. Anak tidak lagi takut mencoba. Ia tahu bahwa idenya, meski sederhana, tetap bermakna. Keberanian pun tumbuh.
Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan anak. Menghindarinya bukan solusi jangka panjang. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menyikapi dengan bijak. Anak perlu belajar memilah inspirasi dan menyalin. Kesadaran ini tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh melalui dialog dan contoh nyata.
Mengajarkan orisinalitas juga berarti mempersiapkan anak menghadapi masa depan. Dunia kerja dan kehidupan sosial menuntut kejujuran dan tanggung jawab. Anak yang terbiasa jujur dalam berkarya lebih siap menghadapi tantangan. Integritas menjadi bekal yang tidak lekang oleh waktu. Nilai ini melampaui teknologi.
Dalam praktiknya, orisinalitas dapat dilatih melalui refleksi. Anak diajak berpikir tentang apa yang ia buat dan mengapa. Pertanyaan sederhana ini menumbuhkan kesadaran diri. Dari kesadaran inilah karakter terbentuk. Integritas tidak lagi abstrak, tetapi terasa nyata.
Pendampingan yang hangat dan konsisten menjadi kunci keberhasilan. Anak belajar dari contoh, bukan dari nasihat panjang. Ketika kejujuran dipraktikkan, ia mudah ditiru. Lingkungan yang jujur melahirkan individu yang jujur. Orisinalitas pun tumbuh tanpa paksaan.
Pada akhirnya, mengajarkan orisinalitas adalah investasi jangka panjang. Dunia akan terus berubah, tetapi nilai tetap dibutuhkan. Integritas di ujung jari adalah bekal menghadapi perubahan itu. Dari sanalah anak tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan bertanggung jawab.
Penulis: Resinta Aini Z.