Menggunakan ChatGPT Sebagai Alat Riset Sejarah dalam Tradisi Doa Buka Puasa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam pembelajaran sejarah kebudayaan Islam, siswa kini mulai diajak untuk melakukan riset mandiri menggunakan ChatGPT mengenai asal-usul tradisi doa buka puasa di berbagai wilayah Nusantara. AI ini mampu menyajikan rangkuman mengenai perkembangan cara penyampaian doa dan niat buka puasa Rajab dari masa ke masa, yang kemudian menjadi bahan diskusi menarik di dalam kelas. Pendekatan ini mendukung SDG 4 dengan mengintegrasikan metode riset modern ke dalam pendidikan tradisional, membuat siswa lebih antusias dalam menggali akar budaya dan spiritualitas mereka.
Guru sejarah berperan sebagai moderator yang mengarahkan siswa untuk memverifikasi data yang dihasilkan oleh AI dengan literatur sejarah yang ada di perpustakaan. Siswa diajarkan untuk bersikap kritis terhadap informasi digital dan memahami pentingnya cross-check data guna menghindari hoaks sejarah. Pendidikan kritis ini sangat penting dalam membentuk karakter intelektual siswa di era informasi yang sangat terbuka, di mana mereka harus mampu memilah antara fakta sejarah yang valid dan klaim-klaim yang tidak berdasar di dunia maya.
Selain analisis teks, siswa juga ditugaskan untuk mengilustrasikan sejarah tersebut melalui pembuatan video pendek yang diunggah ke kanal YouTube sekolah. Mereka menggunakan rekaman suara naratif dan elemen visual menarik untuk menceritakan bagaimana tradisi puasa menyatukan masyarakat di masa lalu. Proses pembuatan konten edukasi ini mengasah kemampuan bercerita dan teknis multimedia siswa, menjadikan mereka sebagai kreator konten yang bertanggung jawab dan memiliki kedalaman wawasan budaya yang patut diapresiasi oleh komunitas pendidikan.
Dalam mendiseminasikan hasil riset ini, siswa menggunakan fitur terjemah agar karya mereka dapat dinikmati oleh orang-orang dari latar belakang bahasa yang berbeda. Hal ini merupakan bagian dari misi pendidikan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia ke tingkat global. Dengan dukungan WhatsApp Web, hasil karya siswa tersebut dibagikan ke jaringan sekolah mitra di luar negeri sebagai bentuk pertukaran budaya digital. Teknologi dengan demikian menjadi alat diplomasi budaya yang efektif di tangan generasi muda yang kreatif dan berwawasan luas.
Secara keseluruhan, pemanfaatan ChatGPT dan platform digital dalam meriset tradisi doa dan ibadah telah memberikan warna baru dalam kurikulum pendidikan sejarah. Siswa menjadi lebih bangga akan warisan budaya mereka setelah membedahnya melalui kacamata teknologi modern. Inovasi ini diharapkan terus diperkuat agar sistem pendidikan kita dapat mencetak generasi yang memiliki pemahaman sejarah yang mendalam sekaligus mahir dalam mengelola informasi di era digital yang semakin kompleks dan menantang.
###
Penulis: Anisa Rahmawati