Menghadapi Inflasi Nilai: Tantangan Dosen Menjaga Standar Mutu Akademik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena "inflasi nilai" kini menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia seiring dengan kemudahan mahasiswa menghasilkan karya berkualitas tinggi melalui bantuan AI. Dosen di Jakarta mulai melaporkan kesulitan dalam memberikan penilaian yang diskriminatif, di mana hampir semua tugas mahasiswa terlihat "sempurna" di permukaan, namun seringkali seragam dalam kedalaman analisis. Situasi ini menuntut dosen untuk meningkatkan standar penilaian dan menjadi penjaga mutu yang lebih ketat agar ijazah yang dikeluarkan universitas tetap memiliki nilai kredibilitas di mata publik dan industri.
Secara teknis, AI mampu menyusun esai dengan struktur yang rapi, referensi yang lengkap (meski kadang fiktif), dan gaya bahasa yang formal. Jika dosen tetap menggunakan rubrik penilaian lama yang hanya fokus pada aspek teknis penulisan, maka hampir semua mahasiswa akan mendapatkan nilai "A". Fakta ini memicu kekhawatiran akan terjadinya devaluasi gelar akademik. Dosen sebagai penjaga nalar harus mampu melihat "celah kognitif" yang tidak bisa diisi oleh AI, seperti kemampuan menghubungkan teori dengan observasi lapangan yang spesifik atau orisinalitas dalam merumuskan hipotesis riset yang baru.
Analisis dari lembaga penjaminan mutu pendidikan tinggi menyarankan agar dosen mulai memberikan bobot nilai yang lebih besar pada komponen "proses" daripada "hasil akhir". Misalnya, presentasi draf berkala, catatan riset harian, dan sesi konsultasi intensif harus menjadi bagian dari penilaian. Dengan cara ini, dosen dapat memastikan bahwa nilai yang diberikan adalah hasil dari kerja keras mahasiswa selama satu semester, bukan sekadar hasil generate satu malam. Penjagaan mutu akademik menuntut dosen untuk lebih terlibat dalam setiap tahapan belajar mahasiswa, sebuah peran yang jauh lebih berat daripada sekadar memberi nilai di akhir semester.
Sudut pandang profesional dari para rektor menekankan bahwa universitas harus memberikan otoritas penuh kepada dosen untuk memberikan nilai rendah bagi tugas yang terindikasi hampa orisinalitas, meskipun secara teknis terlihat bagus. Dosen tidak boleh merasa tertekan oleh sistem evaluasi dosen oleh mahasiswa (student evaluation of teaching) yang kadang membuat dosen takut memberi nilai rendah agar tetap populer. Menjadi penjaga nalar berarti memiliki keberanian untuk menjadi tidak populer demi menjaga standar keilmuan yang tinggi. Integritas sistem pendidikan kita dipertaruhkan jika dosen mulai melonggarkan standar demi kenyamanan administratif.
Inflasi nilai juga berdampak pada motivasi mahasiswa yang benar-benar cerdas dan tekun. Mereka merasa jerih payahnya tidak dihargai secara adil ketika rekan mereka yang menggunakan jalan pintas AI mendapatkan nilai yang sama. Dosen harus mampu memberikan pengakuan yang berbeda bagi mahasiswa yang menunjukkan kedalaman berpikir yang autentik. Penjaminan mutu pendidikan tinggi di era AI adalah soal bagaimana memberikan keadilan bagi kreativitas manusia di atas efisiensi mesin. Dosen harus menjadi kurator bakat yang mampu membedakan emas dari sekadar sepuhan algoritma yang berkilau di layar.
Dosen juga perlu dilatih untuk merancang rubrik penilaian yang lebih canggih, yang mencakup aspek-aspek seperti kritisitas, kreativitas, dan pertimbangan etis yang spesifik. Pelatihan berkelanjutan bagi dosen mengenai perkembangan AI terbaru sangat diperlukan agar mereka tidak tertinggal oleh kecepatan adaptasi mahasiswa. Penjagaan mutu adalah proses yang dinamis; dosen harus terus belajar agar tetap mampu menjadi hakim yang adil bagi karya-karya mahasiswanya. Hanya dengan standar yang terjaga, lulusan universitas kita akan mampu bersaing di kancah internasional yang menuntut kompetensi riil.
Sebagai penutup, melawan inflasi nilai adalah perjuangan dosen untuk menjaga martabat universitas. Kita tidak boleh membiarkan angka-angka di transkrip nilai menjadi hampa makna karena kemudahan teknologi. Dosen harus tetap menjadi sosok yang menuntut keunggulan dan kejujuran dari setiap individu. Memberi nilai adalah sebuah tanggung jawab publik untuk menjamin kualitas SDM bangsa. Dengan tetap menjadi penjaga nalar yang ketat dan adil, dosen sedang memastikan bahwa setiap lulusan kita adalah benar-benar seorang ahli di bidangnya, bukan sekadar operator AI yang mahir.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah