Menguji Keteguhan Integritas Siswa dan Guru di Tengah Arus Kecerdasan Buatan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Interaksi antara manusia dan mesin dalam dunia pendidikan saat ini telah mencapai titik di mana integritas menjadi variabel yang paling krusial untuk dipertahankan. Arus besar kecerdasan buatan membawa serta kemudahan yang luar biasa, namun di sisi lain ia membawa tantangan moral yang menguji profesionalisme guru dan kejujuran siswa. Di tingkat sekolah dasar, ujian ini menjadi sangat penting karena berkaitan dengan pembentukan kompas moral siswa di masa depan. Guru tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga harus menjadi teladan utama dalam menggunakan AI secara etis. Fenomena ini memaksa seluruh elemen sekolah untuk merefleksikan kembali makna belajar yang sesungguhnya di tengah godaan hasil instan.
Dalam praktiknya, keteguhan integritas guru diuji saat mereka harus memberikan penilaian yang adil terhadap tugas-tugas yang mungkin telah tersentuh oleh bantuan teknologi. Guru harus memiliki kepekaan pedagogis untuk membedakan mana karya yang murni hasil pemikiran anak dan mana yang merupakan produk otomasi. Hal ini memerlukan pendekatan pembelajaran yang lebih bersifat dialogis dan interaktif, di mana diskusi di kelas menjadi ruang utama penilaian. Dengan memperkuat interaksi langsung, guru dapat memastikan bahwa setiap pemahaman yang dimiliki siswa adalah hasil dari proses kognitif yang nyata. Integritas guru dalam menjaga standar kualitas ini akan menjadi tameng utama melawan degradasi nilai akademik.
Siswa di sisi lain juga dihadapkan pada godaan untuk menyelesaikan tugas dengan cara yang paling cepat tanpa melibatkan usaha keras. Kecenderungan untuk bergantung pada AI dapat mematikan daya juang dan kreativitas jika tidak dikelola dengan sistem nilai yang kuat di sekolah. Pendidikan dasar memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan pemahaman bahwa kecerdasan tanpa integritas adalah kekosongan yang berbahaya. Anak-anak harus diajarkan bahwa kebanggaan sejati dalam belajar berasal dari usaha sendiri, bukan dari hasil yang diperoleh melalui pintasan teknologi. Keteguhan hati siswa untuk memilih jalan yang jujur adalah kemenangan besar bagi proses pendidikan di era digital.
Sinergi antara integritas guru dan siswa akan melahirkan budaya sekolah yang unggul dan tahan terhadap segala bentuk penyalahgunaan teknologi. Sekolah harus menciptakan kebijakan yang jelas mengenai penggunaan AI agar tidak terjadi kerancuan etika dalam proses belajar mengajar. Edukasi mengenai etika digital harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum agar semua pihak memiliki pemahaman yang sama. Ketika aturan main dalam menggunakan teknologi telah disepakati dan dihayati, maka kecerdasan buatan tidak akan lagi dianggap sebagai ancaman bagi kejujuran. Sekolah harus tetap menjadi tempat di mana kejujuran dijunjung tinggi di atas segala prestasi akademik yang bersifat semu.
Kesimpulan dari dinamika ini adalah bahwa integritas merupakan mata uang utama dalam dunia pendidikan yang tidak akan pernah mengalami devaluasi. Meskipun teknologi berkembang dengan sangat pesat, nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar tetap menjadi penentu keberhasilan pendidikan yang sejati. Kita semua memiliki peran untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan digunakan untuk memperluas cakrawala berpikir, bukan justru mempersempit ruang kejujuran. Mari kita jadikan tantangan teknologi ini sebagai momentum untuk memperkuat kembali komitmen kita terhadap kejujuran akademik. Masa depan pendidikan yang bermartabat ada di tangan para pendidik dan pelajar yang berani menjaga integritasnya.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti