Menimbang Warisan Pendidikan di Penghujung Januari yang Tenang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Penghujung Januari menghadirkan suasana yang relatif tenang setelah hiruk pikuk awal tahun. Dalam ketenangan ini, refleksi tentang pendidikan menemukan ruang yang lebih jujur. Pendidikan sering berjalan sebagai rutinitas tahunan yang jarang dipertanyakan arahnya. Padahal, setiap proses belajar membawa nilai yang akan menetap lama dalam diri generasi penerus. Refleksi akhir Januari menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan menilai apa yang sebenarnya sedang diwariskan. Bukan hanya kurikulum, tetapi cara berpikir dan memandang kehidupan. Pertanyaan tentang arah pendidikan menjadi relevan dan mendesak. Dari sini, evaluasi yang lebih mendalam dapat dimulai.
Warisan pendidikan tercermin dari bagaimana pengetahuan diposisikan. Apakah pengetahuan dipahami sebagai alat untuk memahami dunia atau sekadar instrumen mencapai tujuan praktis. Ketika pengetahuan direduksi menjadi alat, proses belajar kehilangan dimensi reflektifnya. Generasi depan berisiko tumbuh dengan orientasi sempit dan pragmatis. Sebaliknya, pendidikan yang menempatkan pengetahuan sebagai sarana memahami kehidupan melahirkan kepekaan intelektual. Kepekaan ini memungkinkan individu melihat keterkaitan antar berbagai persoalan. Pendidikan semacam ini membentuk cara berpikir yang utuh.
Refleksi akhir Januari juga mengajak menilai keseimbangan antara kompetisi dan kolaborasi. Pendidikan sering menekankan pencapaian individu tanpa cukup ruang untuk kerja bersama. Padahal, tantangan masa depan membutuhkan kemampuan berkolaborasi lintas batas. Ketika pendidikan terlalu kompetitif, solidaritas melemah. Generasi depan membutuhkan pendidikan yang menumbuhkan empati sosial. Empati ini menjadi dasar kerja sama yang sehat. Tanpa empati, kecerdasan kehilangan arah.
Pendidikan yang diwariskan juga tampak dari cara perbedaan disikapi. Apakah perbedaan dipandang sebagai ancaman atau sebagai sumber pembelajaran. Pendekatan yang homogen cenderung menekan keberagaman pemikiran. Akibatnya, kreativitas dan inovasi terhambat. Pendidikan yang inklusif justru memperkaya sudut pandang. Generasi depan belajar menghargai kompleksitas realitas. Sikap ini penting dalam masyarakat yang semakin plural.
Dimensi waktu menjadi aspek penting dalam refleksi pendidikan. Banyak proses belajar terjebak pada target jangka pendek. Akibatnya, pembelajaran kehilangan kedalaman. Pendidikan seharusnya mempersiapkan individu untuk belajar sepanjang hayat. Kesadaran ini menumbuhkan sikap adaptif terhadap perubahan. Generasi depan tidak hanya siap menghadapi masa kini, tetapi juga masa depan yang tidak pasti. Pendidikan yang visioner selalu berpikir lintas waktu.
Refleksi akhir Januari juga menyentuh soal makna keberhasilan. Keberhasilan sering diukur secara sempit melalui angka dan peringkat. Pendekatan ini mengabaikan perkembangan karakter dan integritas. Pendidikan yang bermakna memandang keberhasilan secara lebih holistik. Proses belajar yang jujur dan bertanggung jawab menjadi bagian dari keberhasilan itu sendiri. Generasi depan perlu memahami bahwa nilai hidup tidak selalu terukur secara kuantitatif.
Pada akhirnya, menimbang warisan pendidikan di penghujung Januari adalah latihan kejujuran kolektif. Pendidikan bukan sekadar sistem, tetapi relasi antarmanusia dan nilai. Apa yang diwariskan hari ini akan menentukan kualitas masa depan. Refleksi ini menuntut keberanian untuk mengubah arah jika diperlukan. Dengan refleksi yang jujur, pendidikan dapat menjadi warisan yang memerdekakan generasi depan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah