Menumbuhkan Self-Efficacy Literasi Melalui Pemanfaatan Google Translate
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri merupakan faktor penting dalam keberhasilan literasi pada anak sekolah dasar. Anak dengan self-efficacy tinggi lebih berani mencoba membaca teks baru, menebak makna kata, atau menulis kalimat sederhana. Sementara itu, anak dengan self-efficacy rendah cenderung menghindari aktivitas literasi karena takut salah atau takut dihakimi. Guru perlu menciptakan pengalaman membaca yang memberi kesempatan sukses bertahap bagi anak.
Google Translate dapat membantu membangun pengalaman keberhasilan kecil yang penting bagi penguatan self-efficacy. Anak dapat mencoba menerjemahkan kata baru, memeriksa pengucapannya, lalu menghubungkannya dengan kalimat sederhana. Ketika mereka berhasil memahami kata baru tanpa bergantung sepenuhnya pada guru, muncul rasa percaya diri. Guru kemudian dapat mengarahkan anak untuk memperbaiki hasil terjemahan agar lebih sesuai konteks.
Dengan demikian, Google Translate bukan semata alat penerjemah, tetapi media latihan memahami bahasa asing secara adaptif. Alat ini dapat digunakan untuk mengajarkan perbedaan makna literal dan makna kontekstual, sehingga anak memahami bahwa bahasa bersifat fleksibel. Ketika anak melihat hasil terjemahan sebagai bahan eksplorasi, bukan jawaban final, mereka belajar menggunakan strategi literasi lebih kompleks. Proses ini meningkatkan ketangguhan literasi mereka.
Penguatan self-efficacy juga dapat dilakukan dengan memberi anak tugas literasi kecil menggunakan Google Translate sebagai alat bantu awal. Guru dapat meminta anak mencari terjemahan, kemudian menulis kalimat sendiri berdasarkan pemahamannya. Strategi ini membantu anak menyadari bahwa mereka memiliki kendali terhadap proses belajar. Pemahaman ini memperkuat motivasi intrinsik anak untuk terus belajar bahasa.
Pada akhirnya, Google Translate dapat menjadi mitra pedagogis untuk meningkatkan kepercayaan diri literasi jika digunakan dengan benar. Guru tetap memegang peran penting dalam menuntun anak agar tidak bergantung sepenuhnya pada alat tersebut. Dengan pengawasan yang tepat, anak belajar bahwa teknologi dapat menjadi bagian dari perjalanan belajar, bukan jalan pintas yang menghilangkan proses berpikir.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari