MORAL ITU DIAJARKAN, ETIKA ITU DICONTOHKAN
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Pendidikan karakter bukanlah sekadar kumpulan teori tentang benar
dan salah, melainkan proses panjang yang menyatu dalam keseharian anak. Di
sinilah pentingnya memahami bahwa moral adalah sesuatu yang bisa diajarkan,
sementara etika harus diteladankan. Moral menyentuh pemahaman tentang
nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati, yang dapat
disampaikan melalui cerita, diskusi, atau pembelajaran tematik. Namun, agar
nilai-nilai itu benar-benar hidup dalam perilaku anak, mereka perlu melihat
bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama oleh orang
dewasa di sekitarnya. Tanpa keteladanan, moral akan berhenti pada hafalan,
bukan menjadi kebiasaan hidup.
Di
lingkungan sekolah, guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga figur
sentral dalam membentuk budaya etis. Cara guru bersikap kepada siswa,
menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik, hingga merespons kesalahan, semua
itu adalah pelajaran etika yang diam-diam ditiru dan diinternalisasi anak.
Mahasiswa calon guru pun harus sadar bahwa nilai-nilai karakter tidak cukup
diajarkan di kelas, melainkan harus diwujudkan dalam cara mereka
bersosialisasi, bersikap disiplin, dan menunjukkan empati dalam kegiatan
pembelajaran maupun kehidupan kampus. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa
yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar. Maka, setiap tindakan
pendidik adalah pesan diam yang kuat.
Mewujudkan
generasi yang bermoral dan beretika tidak cukup dengan menempelkan
poster-poster nilai karakter di dinding sekolah. Butuh konsistensi dalam
pengajaran, keteladanan dalam tindakan, dan komitmen bersama antara sekolah,
keluarga, dan masyarakat. Anak-anak yang terbiasa melihat kejujuran, sopan
santun, dan tanggung jawab dalam kehidupan nyata akan lebih mudah menumbuhkan
karakter positif dalam dirinya. Sebab pada akhirnya, pendidikan karakter yang
berhasil bukan yang membuat anak hafal nilai-nilai, tetapi yang menjadikan
mereka mampu hidup di tengah masyarakat dengan hati nurani dan perilaku yang
baik.
###
Penulis: Sevian
Dokumentasi:
Freepik