Multiliterasi Global dan Teknologi: Masa Depan Pendidikan Dasar
Di era digital yang terus berkembang, literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Sebagai mahasiswa S2 Pendidikan Dasar yang mempelajari mata kuliah multiliterasi global, saya menyadari bahwa literasi kini mencakup kemampuan memahami berbagai bentuk informasi teks, gambar, suara, video, bahkan simbol digital yang tersebar di seluruh dunia. Pengalaman saya dalam perkuliahan ini membuka wawasan tentang bagaimana negara-negara maju menerapkan multiliterasi dan teknologi dalam pendidikan dasar mereka.
Negara seperti Singapura dan Korea Selatan menempatkan literasi digital sebagai prioritas utama dalam kurikulum pendidikan dasar. Di Singapura, siswa sejak dini diajarkan berpikir kritis melalui teks digital dan multimedia. Sementara itu, Korea Selatan memanfaatkan teknologi canggih seperti augmented reality (AR) dan artificial intelligence (AI) untuk mendukung pembelajaran interaktif.
Di Finlandia dan Norwegia, multiliterasi dikaitkan erat dengan kesejahteraan siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing anak memahami informasi dari berbagai sumber, termasuk media sosial dan platform digital. Pendekatan ini menekankan pentingnya literasi media dan etika digital. Amerika Serikat dan Kanada juga menunjukkan komitmen kuat terhadap multiliterasi. Mereka mengintegrasikan coding, desain grafis, dan produksi video dalam pelajaran bahasa dan seni. Anak-anak tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga kreator konten yang kritis dan bertanggung jawab.
Tingkat literasi sangat tinggi: Belanda termasuk dalam jajaran negara dengan literasi terbaik di dunia menurut berbagai survei internasional Penerbit Deepublish. Budaya membaca sejak dini: Anak-anak di Belanda dikenalkan pada buku dan kegiatan membaca sejak usia prasekolah, didukung oleh perpustakaan sekolah dan program literasi keluarga. Akses luas ke bahan bacaan: Perpustakaan umum tersebar luas dan mudah diakses, serta didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendorong minat baca. Pendidikan berkualitas: Sistem pendidikan Belanda menekankan keterampilan membaca, menulis, dan berpikir kritis sejak awal, dengan kurikulum yang mendukung literasi digital dan tradisional. Partisipasi masyarakat tinggi: Warga Belanda aktif dalam kegiatan literasi seperti klub buku, festival sastra, dan kampanye membaca nasional. Literasi di Belanda bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga mencerminkan budaya belajar yang kuat dan partisipatif.
Pentingnya penerapan literasi finansial di sekolah dasar yaitu dapat mengembangkan kebiasaan positif sejak dini, misalnya anak-anak mulai belajar nilai hemat, menabung, dan tanggung jawab dalam menggunakan uang jajan, kebiasaan ini membentuk pola pikir finansial yang sehat hingga dewasa. Dapat meningkatkan kecerdasan finansial, seperti literasi finansial melatih kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan dalam konteks ekonomi sederhana, anak belajar membedakan kebutuhan dan keinginan serta memahami konsekuensi dari pilihan finansial. Dapat mendukung kurikulum pendidikan karakter, seperti nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dapat ditanamkan melalui kegiatan finansial seperti menabung bersama atau proyek kewirausahaan kecil.
Dapat mempersiapkan anak menghadapi tantangan ekonomi masa depan, seperti literasi finansial memberi anak bekal keterampilan hidup untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks secara ekonomi, anak lebih siap menghadapi godaan konsumtif dan risiko utang di masa depan. Serta, mudah disesuaikan dengan dunia anak karena konsep finansial bisa diajarkan melalui permainan, simulasi, cerita, dan proyek sederhana yang menyenangkan dan sesuai usia. Namun, saya optimis. Dengan pelatihan yang tepat dan dukungan kebijakan pendidikan, Indonesia dapat mengikuti jejak negara-negara maju dalam menerapkan multiliterasi global. Pendidikan dasar harus menjadi fondasi kuat bagi anak-anak untuk menjadi warga dunia yang literat, kritis, dan kreatif.
Mata kuliah multiliterasi global mengubah cara pandang saya terhadap pendidikan. Saya belajar bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga memahami dunia melalui berbagai medium. Teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang dapat memperkaya pengalaman belajar anak. Sebagai calon pendidik, saya merasa terpanggil untuk membawa semangat multiliterasi ke ruang kelas. Saya ingin menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, relevan, dan bermakna. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi, bertanya, dan mencipta karena disitulah literasi sejati tumbuh.
- Fira Zahrotul Ilma (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)