Orisinalitas sebagai Keberanian, Bukan Sekadar Keunikan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Orisinalitas sering disalahpahami sebagai sesuatu yang harus berbeda dan mencolok. Padahal pada dasarnya, orisinalitas adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri. Di dunia digital yang penuh contoh, keberanian ini tidak selalu mudah. Anak dikelilingi oleh karya yang tampak sempurna. Perbandingan muncul tanpa diminta. Dari sanalah rasa ragu tumbuh.
Dalam situasi seperti ini, menyalin sering menjadi jalan aman. Anak merasa terlindungi oleh karya orang lain. Ia tidak perlu menghadapi kemungkinan salah. Namun perlindungan semu ini datang dengan harga mahal. Kepercayaan diri perlahan terkikis. Anak tidak belajar mempercayai pikirannya sendiri. Integritas pun kehilangan ruang untuk tumbuh.
Media sosial memperkuat tekanan tersebut dengan standar visual dan narasi tertentu. Konten yang viral sering kali terlihat seragam. Gaya yang sama diulang berkali-kali. Anak menyerap pesan bahwa mengikuti tren lebih aman daripada bereksperimen. Dalam iklim ini, orisinalitas terasa berisiko. Padahal justru di sanalah pembelajaran sejati terjadi.
Mengajarkan integritas berarti mengajak anak berdamai dengan ketidaksempurnaan. Ide yang sederhana tidak berarti tidak bernilai. Proses berpikir yang jujur lebih penting daripada hasil yang terlihat hebat. Anak perlu diyakinkan bahwa keaslian lebih bermakna daripada popularitas. Nilai ini tidak instan, tetapi bertahan lama. Ia membentuk karakter yang tahan uji.
Keberanian untuk orisinal juga tumbuh dari lingkungan yang mendukung. Anak yang merasa dihargai tidak perlu bersembunyi di balik karya orang lain. Ia berani menampilkan idenya sendiri. Sekalipun belum rapi, ia mau belajar. Lingkungan yang aman melahirkan kejujuran. Dari sanalah integritas menemukan pijakannya.
Dalam praktik sehari-hari, orisinalitas bisa dilatih melalui refleksi kecil. Anak diajak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Bukan untuk diuji, tetapi untuk dipahami. Proses ini menguatkan rasa memiliki terhadap ide. Ketika ide terasa milik sendiri, keinginan menyalin berkurang. Integritas tumbuh secara alami.
Pada akhirnya, orisinalitas bukan tentang menjadi paling unik. Ia tentang berani jujur pada proses berpikir. Di tengah banjir informasi, keberanian ini menjadi nilai langka. Anak yang belajar menghargai orisinalitas belajar menghargai dirinya sendiri. Dari sanalah integritas di ujung jari benar-benar bermakna.
Penulis: Resinta Aini Z.