Paradoks Prestasi Akademik dan Tantangan Penguatan Hard Skill Mahasiswa di Era Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena paradoks prestasi akademik mencuat ketika angka-angka indeks prestasi yang gemilang tidak diikuti oleh penguasaan hard skill yang mumpuni di era digital. Di satu sisi, data menunjukkan tren kenaikan nilai rata-rata mahasiswa, namun di sisi lain, industri teknologi melaporkan sulitnya menemukan talenta yang ahli. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa proses transfer pengetahuan di bangku kuliah belum sepenuhnya menyentuh aspek teknis yang bersifat aplikatif. Mahasiswa cenderung mahir dalam penguasaan konsep di atas kertas, tetapi gagap saat harus mengoperasikan perangkat lunak atau instrumen teknis terbaru. Tantangan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pengelola pendidikan tinggi untuk segera menyinkronkan ritme akademis dengan kecepatan perkembangan teknologi digital.
Era digital menuntut penguasaan keahlian yang sangat spesifik, mulai dari analisis data, pemrograman, hingga manajemen keamanan siber yang kompleks. Sayangnya, banyak program studi yang masih menggunakan modul pembelajaran usang yang tidak lagi relevan dengan perkembangan industri terkini di lapangan. Mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai tinggi sering kali terjebak dalam pola belajar yang aman dengan mengikuti standar minimal kurikulum kampus. Tanpa inisiatif untuk belajar secara mandiri di luar kelas, prestasi akademik mereka hanya akan menjadi hiasan yang kurang bermakna. Dibutuhkan revolusi dalam metode pengajaran yang mengintegrasikan penggunaan teknologi mutakhir ke dalam setiap mata kuliah secara substantif dan mendalam.
Kurangnya fasilitas laboratorium yang memadai serta keterbatasan akses terhadap lisensi perangkat lunak profesional di beberapa kampus turut memperparah kondisi ini. Mahasiswa hanya mendapatkan paparan teori mengenai cara kerja sebuah sistem tanpa pernah menyentuh langsung sistem tersebut secara praktis. Hal ini menciptakan generasi sarjana yang hanya memiliki kecakapan retoris tanpa didukung oleh kemampuan eksekusi yang nyata di dunia kerja. Padahal, di dunia profesional, kemampuan untuk menghasilkan luaran kerja yang konkret jauh lebih dihargai daripada sekadar penjelasan teoretis yang bertele-tele. Oleh karena itu, investasi pada infrastruktur digital dan peningkatan kapasitas teknis dosen menjadi syarat mutlak bagi kemajuan institusi pendidikan.
Selain faktor infrastruktur, mentalitas mahasiswa juga harus diarahkan agar lebih mencintai proses eksplorasi teknis daripada sekadar menghafal definisi untuk ujian. Kegagalan dalam melakukan eksperimen harus dipandang sebagai bagian dari proses belajar yang berharga, bukan sebagai sesuatu yang menurunkan nilai akademik. Kampus harus menciptakan iklim yang mendukung tumbuh suburnya inovasi dan kreativitas melalui kompetisi-kompetisi teknis yang menantang adrenalin intelektual. Dukungan terhadap komunitas hobi berbasis teknologi di lingkungan kampus juga dapat menjadi sarana efektif dalam mengasah hard skill secara organik. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena memiliki keahlian yang diakui oleh standar industri global.
Melalui sinergi antara kebijakan akademik yang fleksibel dan semangat belajar yang progresif, paradoks prestasi ini dapat segera diatasi dengan baik. Prestasi akademik yang tinggi seharusnya menjadi cerminan dari penguasaan teknis yang mendalam, bukan justru menjadi topeng atas ketidakmampuan praktis. Penilaian harus mencakup aspek demonstrasi keahlian di mana mahasiswa diuji kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas teknis yang mendekati realitas kerja. Transformasi ini akan memastikan bahwa setiap lulusan sarjana memiliki senjata yang tajam untuk memenangkan persaingan di pasar kerja internasional. Hanya dengan penguasaan hard skill yang kokoh, gelar akademik akan mendapatkan kembali martabatnya sebagai simbol keahlian yang sejati.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.