Paradox Digital: Kemudahan Akses vs Melemahnya Ketahanan Belajar Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kita saat ini hidup di era emas informasi di mana akses terhadap ilmu pengetahuan tersedia secara melimpah dan terbuka luas, namun ironisnya, ketahanan belajar siswa justru mencapai titik nadir yang paling mengkhawatirkan. Teknologi yang seharusnya berfungsi sebagai akselerator kecerdasan justru seringkali menjadi penghambat ketekunan karena menawarkan kemudahan semu yang melenakan nalar dan melumpuhkan daya juang. Pendidikan dasar kini berdiri di persimpangan jalan: memanfaatkan kemudahan digital untuk memperkuat logika atau menyerah pada arus budaya instan yang secara perlahan mematikan kemampuan berpikir kritis siswa.
Fakta sosiologis mengungkapkan banyak siswa sekolah dasar yang kini mampu mengoperasikan gawai dengan tingkat kecanggihan yang luar biasa, namun mereka gagal dalam logika dasar yang membutuhkan ketelitian manual dan ketabahan proses. Kecepatan mesin telah mendikte kecepatan kerja otak, menciptakan ketidakmampuan untuk bertahan dalam situasi ketidakpastian intelektual yang membutuhkan waktu lama untuk diurai. Ketekunan belajar kini seringkali dianggap sebagai beban kuno yang tidak lagi relevan, karena dogma efisiensi digital telah merasuki setiap sendi kehidupan anak-anak sejak mereka mengenal layar sentuh pertama kalinya.
Tugas berat bagi para pendidik dan mahasiswa pascasarjana adalah membuktikan secara empiris bahwa kearifan manusia dan daya tahan mental tidak akan pernah bisa diotomatisasi oleh teknologi apa pun. Kita harus mengajarkan kepada siswa bahwa ada hal-hal fundamental dalam hidup yang tidak bisa dipercepat, seperti pembangunan karakter, pemupukan integritas, dan penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam. Keterampilan menggunakan teknologi adalah hal penting, namun tanpa didasari oleh ketekunan belajar yang kokoh, teknologi hanya akan menjadi alat untuk mempercepat kebodohan yang terstruktur dalam format digital yang rapi.
Banyak siswa mengalami frustrasi yang berlebihan ketika hasil pencarian mereka di internet tidak segera memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi di dunia nyata. Hal ini terjadi karena mereka kehilangan kapasitas untuk melakukan pemecahan masalah secara heuristik dan kreatif yang membutuhkan waktu dan kegagalan yang berulang kali. Paradox digital ini menuntut kita untuk menyeimbangkan penggunaan alat bantu modern dengan latihan-latihan fisik dan mental yang sifatnya analog, guna menjaga agar sirkuit-sirkuit ketekunan di dalam otak tetap aktif dan berkembang secara optimal sesuai usia perkembangannya.
Analisis mendalam terhadap kebijakan pendidikan dasar menyarankan agar integrasi teknologi dilakukan dengan prinsip "pedagogi yang bermakna", bukan sekadar mengikuti tren pasar teknologi. Sekolah harus menjadi tempat yang mengajarkan siswa bagaimana cara "mematikan" teknologi sejenak agar mereka bisa menyalakan nalar mereka secara mandiri dalam keheningan yang kreatif. Ketekunan belajar hanya bisa tumbuh subur di dalam ruang-ruang yang menghargai jeda, di mana siswa belajar untuk berdialog dengan pikiran mereka sendiri tanpa harus selalu terhubung dengan internet setiap detiknya.
Selain itu, tantangan ini juga membutuhkan ketegasan dari para pembuat kebijakan untuk membatasi paparan konten yang mempromosikan gaya hidup instan di lingkungan sekolah. Ekosistem pendidikan harus didesain sedemikian rupa sehingga siswa merasa bangga ketika mereka berhasil menyelesaikan sebuah proyek yang sulit setelah berjuang selama berminggu-minggu, daripada merasa bangga karena nilai yang didapat dari hasil kecurangan digital. Kebanggaan atas jerih payah sendiri adalah imun terbaik dalam melawan godaan budaya instan yang terus mencoba meruntuhkan harga diri intelektual generasi muda Indonesia.
Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa teknologi adalah hamba yang baik namun tuan yang sangat kejam bagi nalar manusia jika tidak dikendalikan dengan bijaksana. Menjaga ketahanan belajar di era digital adalah bentuk perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan berpikir siswa agar tidak menjadi budak dari algoritma yang tidak memiliki hati nurani. Mari kita tanamkan kembali nilai-nilai ketekunan sebagai modal utama bagi siswa untuk navigasi di dunia yang serba cepat, agar mereka tetap teguh berdiri dengan kecerdasan yang otentik dan karakter yang tidak mudah lumat oleh arus zaman.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah