Pemanfaatan ChatGPT untuk Personalisasi Kurikulum bagi Siswa Penerima PIP
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Indonesia Pintar (PIP) telah berhasil menarik kembali anak-anak dari keluarga prasejahtera ke bangku sekolah, namun tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tidak tertinggal secara akademis. Untuk mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), banyak sekolah mulai memanfaatkan ChatGPT untuk membuat materi pengayaan yang dipersonalisasi sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing siswa. AI ini membantu guru merumuskan penjelasan yang lebih sederhana bagi siswa yang sempat putus sekolah, sehingga mereka dapat mengejar ketertinggalan dengan lebih cepat dan percaya diri.
Strategi ini terbukti efektif dalam menekan angka pengulangan kelas di kalangan penerima PIP Kemendikdasmen. Guru dapat menginput data kompetensi siswa dan meminta AI untuk menyusun bank soal atau ringkasan materi yang relevan. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan di sekolah membantu menjembatani jurang pengetahuan yang sering terjadi akibat perbedaan fasilitas belajar di rumah. Pendidikan yang inklusif ini memastikan bahwa setiap rupiah bantuan pemerintah dibarengi dengan bimbingan akademis yang berkualitas dan tepat sasaran.
Selain penggunaan di kelas, koordinasi mengenai status bantuan dan progres akademik siswa dilakukan secara intensif melalui WhatsApp Web. Dengan menggunakan komputer, guru kelas dapat lebih mudah mengirimkan laporan perkembangan kepada orang tua penerima PIP secara terjadwal. Platform ini juga digunakan untuk membagikan tautan tutorial cek PIP agar orang tua dapat memantau saldo bantuan secara mandiri. Komunikasi digital yang lancar antara sekolah dan rumah memperkuat pengawasan terhadap penggunaan dana bantuan agar benar-benar digunakan untuk keperluan pendidikan anak.
Siswa juga didorong untuk menggunakan fitur terjemah pada perangkat mereka saat mengakses sumber belajar internasional. Banyak materi sains dan teknologi yang lebih lengkap tersedia dalam bahasa asing, dan alat penerjemah digital membantu siswa penerima bantuan untuk tidak merasa minder dengan keterbatasan bahasa. Literasi digital ini merupakan modal penting bagi mereka untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Pendidikan harus memberikan alat yang sama bagi semua siswa untuk maju, tanpa melihat latar belakang ekonomi mereka.
Sebagai kesimpulan, integrasi AI dan platform komunikasi digital dalam pengelolaan program PIP telah membawa dampak positif yang signifikan. Teknologi membantu guru memberikan perhatian lebih kepada siswa yang membutuhkan, sementara platform digital mempermudah urusan administratif. Ke depan, diharapkan penggunaan alat-alat ini semakin masif di seluruh pelosok negeri guna mendukung tercapainya target pembangunan berkelanjutan dalam menciptakan keadilan sosial melalui sistem pendidikan yang cerdas, transparan, dan inklusif bagi seluruh anak bangsa.
###
Penulis: Anisa Rahmawati