Pemecahan Masalah sebagai Jalan Membebaskan Belajar dari Rutinitas Mekanis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Belajar sering terjebak dalam rutinitas yang berulang. Aktivitasnya terprediksi dan hasilnya dapat ditebak. Hafalan menjadi pusat perhatian karena mudah diukur. Namun rutinitas mekanis ini perlahan mengikis makna belajar. Dunia nyata jarang menawarkan persoalan dengan jawaban tunggal. Setiap situasi menuntut pemahaman konteks. Dalam kondisi inilah pemecahan masalah menawarkan jalan pembebasan. Ia mengajak belajar keluar dari pola mekanis menuju proses berpikir yang hidup.
Pemecahan masalah menuntut keterlibatan penuh individu. Pikiran tidak sekadar menerima, tetapi aktif menafsirkan. Proses ini memecah kebiasaan pasif. Belajar berubah menjadi pengalaman eksploratif. Setiap langkah berpikir memiliki arti.
Rutinitas hafalan sering menempatkan individu sebagai penerima informasi. Pemecahan masalah mengubah posisi ini menjadi pencari makna. Individu belajar mengajukan pertanyaan. Pertanyaan menjadi pemicu utama pembelajaran. Dari pertanyaan, proses berpikir berkembang.
Pendekatan pemecahan masalah juga mengajarkan ketahanan mental. Tidak semua masalah langsung menemukan solusi. Ketidakpastian menjadi bagian dari proses. Melalui proses ini, individu belajar bersabar dan gigih. Ketahanan ini penting dalam menghadapi kompleksitas kehidupan.
Pemecahan masalah memperkaya pengalaman belajar karena bersifat kontekstual. Masalah yang dihadapi terasa dekat dengan realitas. Keterkaitan ini membuat belajar lebih bermakna. Makna inilah yang sering hilang dalam rutinitas hafalan. Ketika makna hadir, motivasi pun tumbuh secara alami.
Selain itu, pemecahan masalah mendorong refleksi diri. Individu diajak menilai strategi yang digunakan. Refleksi ini membantu memperbaiki cara berpikir. Kesadaran akan proses berpikir meningkatkan kualitas belajar. Belajar tidak berhenti pada hasil akhir.
Pada akhirnya, pemecahan masalah membebaskan belajar dari rutinitas mekanis. Ia menghidupkan kembali proses berpikir yang reflektif. Dalam pembebasan ini, belajar menemukan kembali maknanya sebagai proses memahami dunia.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah