Pendidikan Moral dan Tantangan Etika dalam Arus Polarisasi Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Polarisasi sosial dan politik global menghadirkan
tantangan etika yang semakin kompleks. Keputusan moral tidak lagi dihadapkan
pada pilihan sederhana. Setiap sikap sering ditarik ke dalam pusaran
kepentingan dan ideologi. Dalam kondisi ini, pendidikan moral dituntut untuk
lebih dari sekadar menyampaikan norma. Ia harus membekali individu dengan
kemampuan bernalar secara etis. Kemampuan ini penting agar nilai tidak mudah
dikompromikan. Pendidikan moral menjadi ruang latihan menghadapi dilema etika
modern. Dilema ini muncul ketika nilai saling berbenturan di ruang publik
global.
Arus polarisasi sering mendorong pembenaran atas
tindakan yang merugikan pihak lain. Pembenaran ini dibungkus dalam narasi moral
versi kelompok tertentu. Pendidikan moral berfungsi membongkar pembenaran semu
tersebut. Ia mengajak individu menilai tindakan berdasarkan prinsip kemanusiaan
universal. Prinsip ini melampaui kepentingan kelompok sempit.
Tantangan etika juga muncul dari kecepatan informasi.
Reaksi moral sering didorong oleh emosi sesaat. Pendidikan moral menekankan
pentingnya jeda reflektif sebelum bertindak. Jeda ini memungkinkan penilaian
yang lebih rasional dan adil. Tanpa refleksi, keputusan etis mudah terseret
arus polarisasi.
Selain itu, pendidikan moral menghadapi tantangan
relativisme nilai. Dalam situasi terpolarisasi, semua nilai dianggap setara dan
subjektif. Pendidikan moral tidak menolak keberagaman nilai, tetapi menegaskan
batas etis bersama. Batas ini diperlukan untuk melindungi martabat manusia.
Tanpa batas, etika kehilangan arah.
Pendidikan moral juga menuntut keberanian untuk
bersikap tidak populer. Polarisasi sering menghukum suara moderat. Pendidikan
moral membangun integritas untuk tetap berpegang pada nilai. Integritas ini
menjadi benteng terhadap tekanan sosial. Sikap etis tidak selalu mendapatkan
dukungan instan.
Dimensi global polarisasi menambah kompleksitas
tantangan etika. Isu lokal sering memiliki dampak lintas negara. Pendidikan
moral membantu memahami keterkaitan ini. Pemahaman tersebut mendorong tanggung
jawab moral yang lebih luas. Etika tidak lagi bersifat lokal, tetapi global.
Pada akhirnya, pendidikan moral diuji kemampuannya
menghadapi tantangan etika di era polarisasi global. Ia tidak menawarkan
jawaban mutlak, tetapi kerangka berpikir yang matang. Kerangka ini membantu
individu tetap berpijak pada nilai kemanusiaan di tengah tekanan ideologis.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah