Pendidikan Moral di Tengah Dunia yang Terbelah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Polarisasi sosial dan politik
global semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan pandangan tidak
lagi sekadar variasi opini, tetapi sering berubah menjadi garis pemisah yang
kaku. Dalam situasi ini, pendidikan moral memperoleh relevansi yang semakin
mendesak. Nilai-nilai dasar tentang kemanusiaan diuji oleh arus informasi yang
saling bertabrakan. Ruang publik dipenuhi narasi yang cenderung menyederhanakan
realitas menjadi hitam dan putih. Akibatnya, empati dan kebijaksanaan sering
tersisih oleh emosi dan loyalitas kelompok. Pendidikan moral hadir sebagai
upaya menumbuhkan kejernihan berpikir di tengah kebisingan. Ia menjadi
penyangga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Pendidikan moral berfungsi menanamkan kemampuan
melihat manusia sebagai subjek, bukan sekadar label identitas. Dalam dunia yang
terpolarisasi, individu kerap dipersempit oleh afiliasi politik atau sosialnya.
Proses pembentukan moral membantu melampaui penyederhanaan tersebut. Nilai
kemanusiaan menjadi titik temu yang melampaui sekat ideologis. Dari sinilah
dialog dapat tumbuh secara lebih sehat.
Polarisasi global juga memperlihatkan rapuhnya
kepercayaan sosial. Ketika kebenaran diperebutkan oleh berbagai kepentingan,
kebingungan moral mudah muncul. Pendidikan moral membantu membangun kompas etis
dalam situasi ambigu. Kompas ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi
kerangka berpikir yang bijak. Dengan kerangka tersebut, individu dapat menilai
informasi secara lebih kritis dan berimbang.
Tantangan lain muncul dari normalisasi ujaran
kebencian. Polarisasi membuat ekspresi kebencian terasa wajar dan bahkan
dibenarkan. Pendidikan moral berperan menumbuhkan kepekaan terhadap dampak kata
dan tindakan. Kepekaan ini mencegah dehumanisasi pihak lain. Tanpa kepekaan
moral, perbedaan mudah berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Pendidikan moral juga mendorong tanggung jawab sosial.
Dalam dunia yang terbelah, sikap apatis sering dianggap aman. Namun apatis
justru memperkuat polarisasi. Pendidikan moral menekankan pentingnya
keterlibatan yang bertanggung jawab. Keterlibatan ini berlandaskan nilai, bukan
sekadar emosi sesaat.
Proses internalisasi nilai moral membutuhkan ruang
refleksi. Refleksi membantu individu memahami posisi dirinya dalam konflik
sosial. Dari refleksi lahir kesadaran akan keterbatasan perspektif pribadi.
Kesadaran ini membuka ruang untuk mendengarkan pihak lain. Pendidikan moral
memfasilitasi proses ini secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, pendidikan moral menjadi fondasi
penting dalam menghadapi polarisasi global. Ia tidak menghapus perbedaan,
tetapi mengajarkan cara hidup bersama di dalamnya. Dalam dunia yang terbelah,
pendidikan moral menjaga agar kemanusiaan tetap menjadi pusat orientasi.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah