Pengaruh Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran IPAS Terhadap Literasi Kesehatan Siswa Sekolah Dasar
Literasi kesehatan merupakan salah satu kompetensi penting abad ke-21 yang perlu
ditanamkan sejak dini pada peserta didik sekolah dasar. Literasi kesehatan didefinisikan
sebagai kemampuan individu untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan
informasi kesehatan dalam pengambilan keputusan sehari-hari (Braunack-Mayer, 2024).
Kompetensi ini memiliki kontribusi signifikan terhadap perilaku hidup sehat, pencegahan
penyakit, serta peningkatan kualitas hidup siswa. Sayangnya, hasil survei PISA tahun 2022
menempatkan Indonesia pada peringkat ke-69 dari 81 negara dalam aspek literasi secara umum,
yang turut merefleksikan rendahnya capaian literasi kesehatan (OECD, 2022). Penelitian di
beberapa daerah juga menunjukkan sebagian besar siswa SD masih memiliki pemahaman
terbatas mengenai pola makan seimbang, kebersihan diri, dan praktik pencegahan penyakit
(Rachmani et al., 2024). Kondisi ini menegaskan perlunya inovasi pedagogis dalam
pembelajaran sekolah dasar.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah Problem-Based Learning (PBL). PBL
merupakan model pembelajaran yang berakar pada teori konstruktivisme dan menempatkan
masalah autentik sebagai pemicu pembelajaran. Siswa didorong untuk mengeksplorasi
pengetahuan, berdiskusi, berkolaborasi, serta merefleksikan solusi berdasarkan pengalaman
nyata. PBL terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kemandirian belajar,
dan literasi kesehatan karena menghubungkan materi akademik dengan situasi kontekstual
(Chaichana & Hitakowit, 2025). Dalam konteks pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan
Sosial (IPAS), PBL dapat memfasilitasi siswa untuk memahami konsep gizi seimbang
sekaligus menginternalisasi perilaku hidup sehat (Suwono et al., 2023).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental
tipe Pretest-Posttest Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian adalah 27 siswa
kelas V di dua sekolah dasar di Desa Betet, Nganjuk. Kelompok eksperimen (14 siswa)
memperoleh pembelajaran IPAS berbasis PBL, sedangkan kelompok kontrol (13 siswa)
mengikuti metode konvensional. Instrumen penelitian berupa tes literasi kesehatan dengan 25
butir soal serta angket respons siswa dan guru. Analisis data dilakukan dengan uji-t independen
dan perhitungan N-Gain untuk menilai efektivitas intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada literasi kesehatan
siswa kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol. Nilai rata-rata posttest kelompok
eksperimen lebih tinggi dibanding kontrol, dengan skor N-Gain sebesar 0,59 (kategori sedang–
tinggi), sedangkan kelompok kontrol hanya mencapai 0,39 (kategori sedang). Uji-t independen
memperkuat temuan ini dengan nilai signifikansi (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerapan PBL berpengaruh signifikan terhadap peningkatan literasi kesehatan siswa. Angket
juga menunjukkan respon positif: siswa merasa pembelajaran lebih bermakna, mudah
dipahami, dan mendorong perubahan perilaku, sedangkan guru menilai PBL lebih interaktif
serta relevan dengan konteks kehidupan nyata siswa.
Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan efektivitas PBL
dalam pendidikan kesehatan. Misalnya, Tsai et al. (2018) membuktikan bahwa program PBL
mampu meningkatkan literasi kesehatan, pemberdayaan kesehatan, serta perilaku pencegahan
pada peserta didik. Penelitian lain juga menunjukkan PBL meningkatkan kemampuan berpikir
kritis dan pemahaman konseptual siswa pada berbagai konteks pembelajaran IPAS (Atsariyya
et al., 2025). Dengan demikian, penelitian ini memperkuat bukti empiris bahwa PBL dapat
digunakan sebagai strategi penting dalam pengembangan literasi kesehatan siswa sekolah dasar.
Secara teoritis, hasil penelitian mendukung pandangan teori belajar kontekstual yang
menekankan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila dihubungkan dengan
pengalaman nyata (Johnson, 2002). PBL memberikan pengalaman autentik yang
memungkinkan siswa tidak hanya memahami konsep gizi seimbang secara kognitif, tetapi juga
mengaplikasikannya dalam praktik sehari-hari, seperti menyusun menu makanan sehat atau
menerapkan perilaku hidup bersih. Selain itu, penelitian ini juga menegaskan relevansi teori
pembelajaran sosial yang menekankan pentingnya kolaborasi dan interaksi kelompok dalam
membangun pemahaman (Bandura, 1977).
Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan. Pertama, ruang lingkup penelitian
terbatas pada materi gizi seimbang di kelas V sekolah dasar, sehingga hasilnya belum dapat
digeneralisasikan ke jenjang atau topik kesehatan lain. Kedua, ukuran sampel relatif kecil,
sehingga interpretasi hasil perlu dilakukan secara hati-hati. Ketiga, desain quasi-eksperimen
tidak sepenuhnya mengontrol variabel eksternal yang mungkin memengaruhi hasil belajar.
Meskipun demikian, temuan ini tetap memberikan kontribusi penting dalam pengembangan
strategi pembelajaran inovatif yang berorientasi pada literasi kesehatan.
Sebagai simpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa Problem-Based Learning terbukti
berpengaruh signifikan dalam meningkatkan literasi kesehatan siswa sekolah dasar, khususnya
pada tema gizi seimbang dalam pembelajaran IPAS. Model ini tidak hanya meningkatkan
pemahaman kognitif, tetapi juga menumbuhkan motivasi, sikap, dan keterampilan fungsional
siswa dalam menjaga kesehatan. Rekomendasi praktis dari penelitian ini adalah agar guru IPAS
mengintegrasikan PBL dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk memperkuat
literasi kesehatan. Selain itu, penelitian lanjutan dengan cakupan lebih luas, variasi materi
kesehatan, dan desain eksperimen lebih ketat sangat diperlukan untuk memperkuat generalisasi
hasil. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada upaya sistematis
membangun generasi yang sehat, kritis, dan adaptif menghadapi tantangan kesehatan di masa
depan.
Penulis: Moch. Zakaria Lutfi
Dokumentasi: ResearchGate