Peran Pendidikan Pemrograman Komputer Dalam Mengembangkan Kemampuan Teknologi Siswa
s2diksas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Di
era digital yang semakin maju, teknologi telah menjadi bagian penting dalam
kehidupan sehari-hari. Namun, banyak siswa di Indonesia masih belum memiliki
keterampilan dalam bidang pemrograman komputer. Hal ini terjadi terutama di
sekolah-sekolah yang belum memiliki akses pendidikan teknologi yang memadai.
Kurangnya pengenalan terhadap pemrograman membuat siswa hanya menjadi pengguna
teknologi tanpa memahami cara kerja di baliknya. Padahal, keterampilan ini
sangat penting untuk menghadapi tantangan di masa depan, terutama dalam dunia
kerja yang semakin bergantung pada teknologi.
Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah kesenjangan
keterampilan teknologi di kalangan siswa. Banyak sekolah masih belum
mengajarkan pemrograman sebagai bagian dari kurikulum utama, sehingga siswa
tidak memiliki dasar dalam coding, analisis data, atau pengembangan aplikasi.
Akibatnya, ketika mereka memasuki dunia kerja, mereka kesulitan bersaing dengan
individu yang telah memiliki keterampilan digital yang lebih baik. Peluang
karier di bidang teknologi terus berkembang pesat. Profesi seperti pengembang
perangkat lunak, analis data, dan ahli kecerdasan buatan menjadi semakin
dibutuhkan. Jika siswa tidak diberikan pendidikan pemrograman sejak dini,
mereka akan tertinggal dan kehilangan kesempatan untuk berkarier di bidang
teknologi yang menjanjikan. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting
dalam membekali siswa dengan keterampilan pemrograman.
Untuk mengatasi masalah ini, pendidikan pemrograman perlu diterapkan lebih luas di sekolah dengan berbagai pendekatan. Kurikulum berbasis teknologi harus mulai diperkenalkan sejak tingkat dasar dan menengah, agar siswa dapat memahami konsep dasar coding dan logika pemrograman sejak dini. Selain itu, sekolah perlu menyediakan fasilitas yang memadai serta melatih guru agar mampu mengajarkan pemrograman dengan metode yang menarik dan efektif.
Selain melalui kurikulum formal, pendidikan pemrograman juga dapat
diperkuat dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti klub coding dan kompetisi
teknologi. Hackathon, lomba pemrograman, serta workshop pengembangan aplikasi
dapat menjadi wadah bagi siswa untuk mengasah keterampilan mereka secara lebih
praktis. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu
mengaplikasikan keterampilan pemrograman dalam berbagai proyek nyata.
Namun, tantangan masih ada, terutama terkait kurangnya tenaga
pengajar yang kompeten di bidang pemrograman serta keterbatasan fasilitas di
beberapa daerah. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah, sekolah, dan
industri teknologi sangat diperlukan untuk memperluas akses pendidikan
pemrograman bagi semua siswa. Jika pendidikan pemrograman diterapkan dengan
baik, siswa tidak hanya akan lebih siap menghadapi dunia digital, tetapi juga
memiliki kemampuan untuk menciptakan inovasi dan berkontribusi dalam perkembangan
teknologi. Dengan keterampilan ini, mereka dapat menjadi generasi yang tidak
hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan
solusi berbasis digital yang bermanfaat bagi masyarakat.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz