Perilaku Siswa dalam Rimba Digital Antara Kebebasan dan Kebablasan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menganalisis anatomi perilaku siswa di dalam rimba digital menyingkap sebuah ketegangan yang konstan antara hak atas kebebasan berekspresi dan kecenderungan perilaku kebablasan. Rimba digital menawarkan ruang tanpa batas di mana identitas dapat dengan mudah dikonstruksi atau bahkan dimanipulasi sesuai dengan keinginan individu penggunanya. Bagi siswa yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri ruang ini sering kali dianggap sebagai taman bermain tanpa aturan yang mengikat. Namun tanpa pemahaman yang mendalam mengenai batas-batas etika kebebasan yang mereka miliki sering kali berujung pada tindakan yang merugikan pihak lain secara sistemis. Fenomena kebablasan ini tercermin dari tingginya angka penyebaran konten negatif yang dilakukan oleh pelajar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk membedah struktur perilaku ini guna menemukan solusi edukatif yang tepat untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang benar. Pendidikan harus mampu memberikan navigasi yang jelas agar siswa tidak tersesat dalam belantara informasi yang penuh dengan jebakan moral.
Struktur perilaku kebablasan di dunia maya sering kali didorong oleh adanya fenomena disinhibisi digital yang membuat individu merasa berani melakukan hal yang tak akan mereka lakukan di dunia nyata. Siswa merasa bahwa layar perangkat mereka adalah perisai yang melindungi mereka dari konsekuensi sosial secara langsung atas tindakan buruk yang mereka lakukan. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan kontrol diri terhadap impuls agresif pornografi hingga perilaku konsumtif yang tidak masuk akal secara finansial. Ketidakmampuan membedakan antara ruang pribadi dan ruang publik digital juga menjadi salah satu penyebab utama dari perilaku yang kebablasan tersebut. Banyak siswa yang membagikan informasi pribadi secara berlebihan tanpa menyadari risiko keamanan yang mungkin mengintai keselamatan mereka di masa depan. Pendidikan harus secara aktif mengintervensi dengan memberikan pemahaman tentang manajemen privasi dan etika berbagi di platform digital yang bersifat publik. Kesadaran akan batas-batas diri adalah langkah awal untuk bertransformasi dari pengguna yang kebablasan menjadi pengguna yang bertanggung jawab secara penuh.
Dalam anatomi perilaku digital ini pengaruh kelompok sebaya atau peer group memegang peranan yang sangat dominan dalam menentukan standar perilaku siswa sehari-hari. Siswa sering kali merasa tertekan untuk melakukan tindakan yang kebablasan hanya demi mendapatkan pengakuan atau menghindari pengucilan dari kelompok daring mereka. Budaya ikut-ikutan tanpa berpikir kritis ini sering kali membuat seorang siswa yang baik di dunia nyata menjadi sangat agresif saat berada di dunia maya. Inilah yang kita sebut sebagai tekanan kelompok digital yang dapat meruntuhkan fondasi moral individu dalam waktu yang sangat singkat dan efektif. Sekolah harus berperan dalam membangun komunitas digital yang positif agar siswa memiliki lingkungan yang mendukung perkembangan karakter yang baik dan santun. Mengajarkan keberanian untuk berkata tidak terhadap ajakan negatif di media sosial adalah salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki siswa saat ini. Kedewasaan sosial di ruang digital menuntut kemampuan untuk tetap setia pada nilai-nilai integritas pribadi meskipun arus mayoritas berkata sebaliknya.
Selain itu anatomi perilaku ini juga dipengaruhi oleh rendahnya literasi hukum di kalangan siswa mengenai regulasi yang mengatur interaksi di dunia siber. Banyak yang tidak menyadari bahwa tindakan sepele seperti membagikan foto orang lain tanpa izin atau menghina simbol negara dapat berakibat hukum yang sangat berat. Kebablasan ini sering kali berawal dari ketidaktahuan yang kemudian berubah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan tanpa adanya pembinaan khusus. Oleh karena itu edukasi mengenai undang-undang informasi dan transaksi elektronik perlu diberikan secara sederhana dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan pelajar. Pengetahuan tentang konsekuensi hukum akan memberikan efek gentar bagi siswa sebelum mereka memutuskan untuk melakukan tindakan yang melanggar norma sosial. Namun pendekatan hukum tidak boleh berdiri sendiri tanpa diiringi dengan pendekatan moral yang menyentuh kesadaran batin dari setiap individu. Keseimbangan antara rasa takut akan hukum dan rasa hormat terhadap etika akan melahirkan perilaku digital yang seimbang dewasa serta bermartabat tinggi.
Sebagai penutup memahami anatomi perilaku siswa dalam rimba digital adalah langkah krusial untuk mencegah generasi muda kita terjebak dalam perilaku yang kebablasan. Kebebasan digital harus dimaknai sebagai kebebasan untuk berkarya dan berinovasi secara positif demi kemajuan diri sendiri dan orang banyak. Kita tidak boleh membiarkan rimba digital menjadi tempat yang liar di mana hukum rimba berlaku dan merusak masa depan anak-anak bangsa yang berharga. Peran pendidik dan orang tua sebagai pemandu jalan sangat diperlukan untuk memastikan siswa tetap berada pada jalur yang aman dalam bereksplorasi di internet. Mari kita ajarkan siswa untuk menghargai kebebasan dengan cara menggunakannya secara bijaksana dan penuh rasa tanggung jawab terhadap sesama manusia. Dengan pemahaman yang utuh mengenai anatomi perilaku ini kita dapat merancang strategi pendidikan yang lebih efektif untuk membentuk karakter digital yang unggul. Semoga generasi masa depan kita mampu menjadi penjelajah digital yang cerdas sekaligus warga dunia yang memiliki budi pekerti luhur dan sangat mulia.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.