Refleksi Pembelajaran Mahasiswa Pendidikan Dasar UNESA
Saya Faiqotul Hima Mahfidah, mahasiswa Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya. Semester ini menjadi pengalaman belajar yang berharga bagi saya. Melalui tujuh mata kuliah, saya belajar bagaimana nilai, budaya, teknologi, dan riset dapat diterapkan dalam pendidikan.
Pada mata kuliah Etnopedagogi, saya belajar bahwa budaya tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga sumber nilai yang dapat dihidupkan dalam proses belajar mengajar. Setiap unsur budaya seperti tradisi, bahasa, dan kebiasaan masyarakat dapat dijadikan bahan ajar yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Melalui pendekatan ini, pembelajaran di sekolah dasar menjadi lebih bermakna karena menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas budaya yang mereka alami sehari-hari. Melalui proses analisis, saya menelaah sejauh mana nilai-nilai budaya tersebut sejalan atau mungkin bertentangan dengan prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Dari kegiatan ini, saya memahami bahwa pendidikan berbasis budaya tidak hanya membantu peserta didik mengenal dan menghargai budayanya sendiri, tetapi juga menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan dan sesama.
Sementara itu, pada mata kuliah Filsafat Ilmu Pendidikan, saya belajar memahami hakikat pendidikan dari sisi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Melalui kajian ini, saya mengenal bagaimana pandangan tentang manusia, pengetahuan, dan nilai membentuk arah pendidikan. Saya juga mempelajari berbagai aliran filsafat pendidikan seperti idealisme, realisme, pragmatisme, dan progresivisme yang masing-masing memiliki cara pandang berbeda terhadap proses belajar. Dari sini, saya memahami bahwa setiap aliran memiliki kelebihan yang dapat dijadikan acuan dalam merancang pembelajaran yang humanis dan bermakna bagi peserta didik.
Melalui mata kuliah Multiliterasi, saya belajar menganalisis berbagai isu sosial yang bisa dihubungkan dengan pembelajaran. Saya memahami bahwa literasi saat ini tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis serta berkomunikasi melalui berbagai media. Dari tugas-tugas yang saya kerjakan, saya menyadari bahwa pembelajaran seharusnya menjadi ruang bagi peserta didik untuk memahami dunia di sekitar mereka. Saya juga mengenal empat konsep utama dalam multiliterasi, yaitu situated practice (praktik berlokasi), overt instruction (pengajaran eksplisit), critical framing (kerangka kritis), dan transformed practice (praktik transformasi). Melalui penerapan keempat konsep ini, saya belajar merancang pembelajaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga membantu peserta didik mengaitkan pengalaman pribadi dengan pemahaman baru secara kritis dan kreatif.
Pada mata kuliah Kebijakan dan Kepemimpinan Pendidikan, saya belajar berbagai teori kepemimpinan yang menekankan pentingnya kolaborasi, komunikasi, dan keteladanan. Saya memahami bahwa guru tidak hanya menjalankan kebijakan, tetapi juga berperan sebagai pemimpin dalam proses pembelajaran. Seorang guru perlu mampu mengambil keputusan yang bijak, menginspirasi peserta didik, dan membangun lingkungan sekolah yang positif. Melalui mata kuliah ini, saya belajar bahwa kepemimpinan pendidikan bukan hanya soal
jabatan, tetapi tentang bagaimana memberi pengaruh dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Kemudian, pada mata kuliah Aplikasi Teknologi, saya belajar mengenal dan memanfaatkan berbagai teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan machine learning dalam pembelajaran. Saya mempelajari bagaimana sistem cerdas dapat membantu guru dalam mendesain media belajar yang interaktif dan adaptif sesuai kebutuhan peserta didik. Melalui praktik pembuatan media, saya mencoba mengintegrasikan fitur AI sederhana untuk memberikan umpan balik otomatis dan pengalaman belajar yang lebih personal. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa penggunaan AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi untuk mendukung kreativitas dan efektivitas proses pembelajaran di kelas.
Pada mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan, saya belajar langkah-langkah dasar dalam menyusun rancangan tesis. Saya berlatih mengidentifikasi masalah, merumuskan pertanyaan penelitian, dan menentukan metode yang tepat. Proses ini melatih saya berpikir lebih sistematis dan kritis dalam memahami persoalan pendidikan. Saya juga menyadari bahwa penelitian tidak hanya untuk laporan ilmiah, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi pembelajaran di sekolah. Melalui mata kuliah ini, saya semakin termotivasi untuk menghasilkan penelitian yang relevan dan berdampak bagi peningkatan kualitas pendidikan dasar.
Ketujuh mata kuliah yang saya tempuh telah mengajarkan bahwa pendidikan adalah perjalanan yang utuh antara nilai, ilmu, dan aksi. Dari etnopedagogi hingga metodologi penelitian, saya belajar bahwa guru abad ke-21 harus mampu berpikir reflektif, beradaptasi dengan teknologi, serta berpegang pada nilai kemanusiaan. Semester ini bukan hanya memperluas pengetahuan saya, tetapi juga memperdalam keyakinan bahwa perubahan pendidikan dimulai dari pendidik yang terus belajar. Penulis: Faiqotul Hima Mahfidah (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)