Reorientasi Pendidikan Dasar Menuju Pemuliaan Etika Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Reorientasi sistem pendidikan dasar di Indonesia merupakan langkah strategis yang sangat mendesak guna mengantisipasi krisis moral yang semakin kompleks di era disrupsi. Fokus utama dari reorientasi ini adalah menempatkan pemuliaan etika siswa sebagai poros utama dalam setiap kebijakan dan aktivitas instruksional di lingkungan sekolah. Selama ini, etika sering kali hanya ditempatkan sebagai materi pelengkap yang diajarkan secara teoretis dalam ruang-ruang kelas yang sangat terbatas durasinya. Padahal, etika adalah kompas kehidupan yang akan membimbing siswa dalam mengambil keputusan yang tepat di tengah berbagai godaan nilai yang ada. Tanpa adanya pemuliaan etika, pendidikan hanya akan menghasilkan individu yang cerdas namun berpotensi merusak tatanan sosial masyarakat yang harmonis.
Proses pemuliaan etika memerlukan pergeseran metode pembelajaran dari yang bersifat hafalan menjadi pembelajaran yang berbasis pada habituasi dan keteladanan nyata. Setiap warga sekolah, mulai dari kepala sekolah hingga petugas kebersihan, harus menjadi role model dalam mempraktikkan nilai-nilai integritas dan kesopanan. Siswa sekolah dasar merupakan peniru yang ulung, sehingga mereka memerlukan lingkungan yang secara konsisten mempertontonkan perilaku etis dalam segala situasi interaksi. Reorientasi ini juga menuntut adanya kurikulum yang lebih fleksibel yang memungkinkan guru untuk mengintegrasikan diskusi moral ke dalam mata pelajaran umum. Dengan demikian, etika tidak lagi dianggap sebagai beban tambahan, melainkan sebagai ruh yang menghidupkan seluruh proses belajar mengajar di sekolah.
Selain itu, penilaian terhadap perkembangan etika siswa harus dilakukan secara kualitatif dan berkelanjutan melalui observasi partisipatif yang dilakukan oleh para pendidik. Laporan hasil belajar tidak boleh hanya berisi deretan angka, tetapi harus mampu mendeskripsikan transformasi perilaku dan kematangan emosional siswa secara komprehensif. Pengakuan terhadap kemajuan etika siswa akan memotivasi mereka untuk terus mempertahankan perilaku baik meskipun tidak sedang berada dalam pengawasan langsung orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk membangun otonomi moral pada diri anak agar mereka mampu bertindak benar atas dasar kesadaran diri sendiri. Sekolah harus menciptakan atmosfer yang memberikan penghargaan tinggi terhadap setiap tindakan kecil yang mencerminkan kemuliaan etika dan kejujuran siswa.
Kerja sama sektor publik dan swasta juga diperlukan untuk mendukung reorientasi pendidikan yang menjunjung tinggi pemuliaan etika sebagai standar nasional yang baru. Dukungan berupa pelatihan bagi guru-guru dalam bidang pedagogi karakter akan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas implementasi etika di ruang-ruang kelas. Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang tidak hanya menitikberatkan pada hasil ujian nasional, tetapi juga pada indeks integritas dan kesantunan lingkungan sekolah. Media massa juga harus berperan dalam mempromosikan profil siswa-siswa yang berprestasi secara moral sebagai inspirasi bagi generasi muda lainnya di penjuru negeri. Hanya melalui gerakan kolektif yang terstruktur, pemuliaan etika dapat menjadi budaya baru yang mengakar kuat dalam sistem pendidikan dasar kita.
Sebagai penutup, reorientasi pendidikan dasar menuju pemuliaan etika adalah investasi peradaban yang akan menjamin kelangsungan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat. Kita tidak boleh terlambat menyadari bahwa kekuatan sebuah negara terletak pada kualitas moral warga negaranya, bukan sekadar pada kekayaan sumber daya alamnya. Mari kita jadikan etika sebagai landasan utama dalam mendidik anak-anak kita agar mereka tumbuh menjadi pemimpin yang memiliki integritas dan empati yang tinggi. Pendidikan yang memuliakan etika adalah pendidikan yang memberikan harapan nyata bagi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dengan semangat pembaruan, kita melangkah menuju masa depan pendidikan Indonesia yang lebih bermakna dan memanusiakan manusia secara seutuhnya.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.