“Revolusi Peran Dosen: Dari Pemberi Nilai Menuju Pelindung Nalar Mahasiswa”
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Era Al Antara telah membuka lembar baru dalam sejarah pendidikan tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Teknologi yang semakin canggih memberikan kemudahan akses terhadap berbagai bentuk pengetahuan, namun juga membawa risiko tersebarnya informasi salah dan pemikiran yang tidak kritis. Kondisi ini mendorong terjadinya perubahan mendasar dalam peran yang harus diemban oleh para dosen.
Sebelum adanya perkembangan teknologi yang pesat, peran dosen lebih fokus pada transfer pengetahuan dan penilaian hasil pembelajaran mahasiswa. Dosen bertindak sebagai sumber utama informasi, dan nilai yang diberikan menjadi ukuran utama keberhasilan mahasiswa dalam menyerap materi pelajaran. Sistem pendidikan pada masa itu lebih bersifat teacher-centered, di mana mahasiswa lebih banyak menerima daripada mengkonstruksi pengetahuan sendiri.
Dengan munculnya Al Antara, posisi dosen sebagai satu-satunya sumber informasi tidak lagi relevan. Mahasiswa dapat dengan mudah mencari dan mengakses berbagai materi pembelajaran dari berbagai sumber, bahkan bisa mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan tugas akademik dengan cepat. Namun, kemudahan ini seringkali membuat mahasiswa lupa untuk mengembangkan kemampuan berpikir sendiri dan tidak mampu membedakan antara informasi yang benar dan salah.
Perubahan peran dosen menjadi pelindung nalar mahasiswa menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini berarti dosen harus mampu membimbing mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Dosen juga harus mengajarkan etika dalam penggunaan teknologi, cara mengevaluasi kredibilitas sumber informasi, serta bagaimana mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapatkan untuk menyelesaikan permasalahan nyata.
Revolusi peran ini membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak. Institusi pendidikan perlu mengembangkan kurikulum yang lebih berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir, menyediakan fasilitas dan sumber daya yang memadai, serta memberikan pelatihan berkelanjutan bagi dosen. Selain itu, kerjasama dengan berbagai pihak luar kampus juga dapat membantu dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata dan relevan bagi mahasiswa.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah