Ringkasan MK Metodologi Penelitian Pendidikan Dasar
Penulis: Della Octavia Citra Lestari (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)
Metodologi Penelitian Pendidikan Dasar merupakan mata kuliah yang membekali calon guru dengan kerangka berpikir, prinsip-prinsip, dan teknik-teknik sistematis untuk merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan sebuah penelitian ilmiah dalam konteks pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD). Inti dari mata kuliah ini adalah melatih kemampuan berpikir kritis dan ilmiah untuk memecahkan masalah pembelajaran yang nyata di kelas, sehingga seorang guru tidak hanya menjadi pelaksana kurikulum, tetapi juga menjadi praktisi yang reflektif dan peneliti di bidangnya sendiri. Ruang lingkup mata kuliah seperti pada umumnya, membahas mengenai perumusan masalah, kajian pustaka, metode penelitian, analisis data, dan penyusunan laporan. Topik yang akan dipelajari dalam mata kuliah ini, diantaranya: 1) Penelitian Kuantitatif dengan Desain Kuasi Eksperimen; 2) Penelitian Kuantitatif dengan Desain Korelasi; 3) Penelitian Kualitatif dengan Desain Deskriptif dan Studi Kasus; dan 4) Penelitian Pengembangan Dengan Desain ADDIE, RnD, 4D, ASSURE. Dalam mata kuliah ini saya membahas poin 4, yaitu penelitian pengembangan dengan desain 4D.
Penelitian Pengembangan dengan Desain 4D
Penelitian pengembangan dengan desain 4D adalah sebuah pendekatan sistematis yang dirancang untuk mengembangkan perangkat pembelajaran secara bertahap, valid, dan dapat diterapkan di berbagai konteks pendidikan. Istilah "4D" merujuk pada empat tahap utama yang menjadi fondasi proses pengembangannya, yaitu: Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan), dan Disseminate (penyebarluasan). Model ini sangat fleksibel dan dapat digunakan dalam berbagai jenis pengembangan, mulai dari modul pembelajaran cetak, video edukasi, media interaktif digital, hingga sistem pembelajaran berbasis teknologi seperti e-learning. Terdapat empat tahapan, yaitu sebagai berikut.
1. Define (pendefinisian)
Tahap ini merupakan tahap awal atau tahap perencanaan dalam proses pengembangan media pembelajaran. Pada tahap ini, dilakukan analisa kebutuhan untuk pengumpulan informasi, menentukan tujuan pembelajaran, tema atau topik, sasaran yang ditunjukkan kepada siswa, dan konten yang akan disampaikan. Thiagarajan et al. (1974) menyebutkan lima kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, yaitu:
a) Front-end Analysis (analisis ujung depan). Tahap ini dilakukan dengan mengidentifikasikan dan menentukan dasar permasalahan yang dihadapi.
b) Learner Analysis (analisis peserta didik). Tahap ini dilakukan dengan mengidentifikasikan karakteristik peserta didik yang menjadi target atas pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik tersebut ialah kemampuan, motivasi dan skill.
c) Task Analysis (analisis tugas). Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasikan keterampilan peserta didik. Pada tahap ini, pendidik menganalisa tugas pokok yang dikuasai peserta didik. d) Concept Analysis (analisis konsep). Pada tahap ini bertujuan untuk menganalisis konsep
yang akan diajarkan, menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional. e) Specifying Instructional Objectives (spesifikasi tujuan pembelajaran). Pada tahap ini, peneliti merumuskan tujuan pembelajaran dan perubahan perilaku peserta didik.
2. Design (perancangan). Tahap perancangan atau design, membantu menentukan desain yang akan diterapkan. Pada tahap ini dapat dilakukan pemilihan media, pemilihan format, dan pembuatan rancangan awal. Ada empat langkah yang dilakukan pada tahap ini antara lain: a) Constructing Criterion-Referenced Test (penyusunan standar tes). Pada tahap ini merupakan
penyusunan standar tes. Penyusunan standar tes berdasarkan hasil analisa tujuan pembelajaran dan analisa peserta didik.
b) Media Selection (pemilihan media). Pada tahap ini dilakukan pemilihan media dan identifikasi media pembelajaran yang sesuai dan relevan dengan karakteristik materi. c) Format Selection (pemilihan format). Tahap ini merupakan pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran bertujuan untuk merumuskan rancangan media pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode, dan sumber pembelajaran. d) Initial Design. Tahap ini merupakan simulasi materi pembelajaran yang telah dirancang melalui praktik mengajar (Microteaching).
3. Develop (pengembangan). Tahap ini merupakan tahap untuk menghasilkan produk pengembangan atau model. Ada empat langkah pada tahap ini, yaitu:
a) Pembuatan prototipe awal. Misalnya berupa modul cetak, aplikasi, video atau media interaktif sesuai hasil desain.
b) Validasi oleh para ahli. Ini bisa melibatkan ahli materi, media, bahasa, dan evaluasi untuk mengecek kelayakan konten dan tampilan.
c) Revisi berdasarkan masukan ahli. Setelah divalidasi, biasanya akan ada saran-saran perbaikan yang harus diterapkan.
d) Uji coba terbatas (limited trial). Produk diuji kepada kelompok kecil peserta didik untuk mendapatkan respon pengguna nyata.
4. Disseminate (penyebarluasan). Ada dua bagian yang dilakukan pada tahap ini sebagai berikut. a) Validation testing, yaitu produk yang selesai direvisi diimplementasikan pada target atau sasaran sesungguhnya.
b) Packaging, diffusion dan adoption, yaitu produk dikemas dengan mencetak buku panduan penerapan dan disebarluaskan agar dapat diserap (difusi) atau dipahami orang lain dan dapat digunakan (diadopsi).