Ringkasan MK Multiliterasi Global Pendidikan Dasar
Penulis: Della Octavia Citra Lestari (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)
Multiliterasi Global Pendidikan Dasar merupakan mata kuliah yang membekali calon guru dengan pemahaman dan keterampilan untuk mengembangkan kemampuan literasi yang kompleks dan beragam (multiliterasi) pada peserta didik sekolah dasar, yang tidak hanya terbatas pada baca-tulis, tetapi juga mencakup kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan berpartisipasi secara kritis dalam konteks global yang semakin terhubung dan multikultural. Multiliterasi yang dibahas dari berbagai macam negara, seperti Singapura, Macao, Chinese Taipei, Hongkong, Jepang, Korea Utara, Estonia, Swiss, Kanada, Belanda, Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, Inggris, Finlandia, dan Norwegia. Literasi yang dianalisis tidak hanya literasi dasar saja, melainkan ada literasi finansial, Kesehatan, digital, budaya, sains, dan sebagainya. Selain itu, menganalisis program-program yang mendukung adanya berbagai literasi di negara tersebut. Selanjutnya, topik yang akan dipelajari dalam mata kuliah ini, diantaranya: 1) menganalisis secara praksis melalui hasil penelitian terkait kebijakan literasi di Indonesia ditinjau dari beberapa landasan (filosofis, psikolgis, sosiologis dan yuridis); 2) mengidentifikasi implementasi multiliterasi pendidikan dasar di Indonesia dan memecahkan masalah hasil temuan implementasi multiliterasi pendidikan dasar di Indonesia; 3) menganalisis hasil riset tentang literasi dasar dalam pembelajaran berdiferensiasi pada kurikulum Merdeka; 4) menganalisis artikel tentang literasi matematis di Indonesia; 5) menyimpulkan cara mengembangkan literasi matematis di pendidikan dasar; 6) mengidentifikasi karakteristik ragam perspektif literasi sosial kritis; 7) mengidentifikasi karakter ragam perspektif literasi kewarganegaraan global; dan 8) mengidentifikasi karakteristik ragam perspektif literasi lingkungan. Dalam mata kuliah ini, saya membahas poin 2, yaitu mengidentifikasi implementasi multiliterasi pendidikan dasar di Indonesia dan permasalahannya.
Implementasi Multiliterasi Pendidikan Dasar di Indonesia dan Permasalahannya Multiliterasi adalah keterampilan menggunakan beragam cara untuk menyatakan dan memahami ide‐ide dan informasi dengan menggunakan bentuk‐bentuk teks konvensional maupun tkes inovatif, simbol dan multimedia. Relevansi multiliterasi dalam kurikulum pendidikan dasar terdapat berbagai aspek, seperti: 1) menjawab tuntutan zaman atau era digital; 2) selaras dengan kurikulum merdeka; 3) pengembangan kompetensi abad ke-21; 4) meningkatkan efektivitas literasi dan numerasi dasar; 5) mengakomodasi keragaman budaya, konteks, dan media; dan 6) Memperkuat karakter dan nilai-nilai kewarganegaraan. Implementasi multiliterasi di sekolah dasar diintegrasikan melalui Kurikulum Merdeka dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Beberapa bentuk penerapannya antara lain:
1. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
• Membiasakan siswa membaca 15 menit sebelum pelajaran.
• Menyediakan pojok baca, perpustakaan digital, dan literasi berbasis proyek. • Mengembangkan budaya literasi di seluruh ekosistem sekolah.
2. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
P5 mendorong siswa mengembangkan multiliterasi melalui proyek berbasis kehidupan nyata: • Literasi sains dan lingkungan: proyek daur ulang, pengamatan ekosistem sekolah. • Literasi budaya dan seni: mengenal tari, musik, dan cerita rakyat daerah.
• Literasi digital: membuat presentasi, video edukatif, atau poster digital. 3. Integrasi dalam Pembelajaran Tematik
Guru mengintegrasikan berbagai literasi dalam tema pelajaran. Contoh:
Tema “Makanan Sehat” mengintegrasikan:
• Literasi numerasi: menghitung kalori
• Literasi sains: memahami kandungan gizi
• Literasi digital: mencari informasi makanan sehat dari internet
• Literasi visual: membuat poster makanan sehat.
4. Penguatan Literasi Guru
Guru dilatih untuk menjadi fasilitator multiliterasi melalui:
• Program Guru Penggerak dan Platform Merdeka Mengajar.
• Pelatihan pembuatan bahan ajar digital.
• Workshop literasi kritis dan media.
5. Pemanfaatan Teknologi Digital
• Peserta didik menggunakan tablet atau computer untuk membuat karya digital. • Guru menggunakan media interaktif seperti video, e-book, dan aplikasi edukatif. Contoh permasalahannya:
1. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
- Pelaksanaan tidak konsisten antar sekolah: frekuensi dan kualitas pembiasaan bervariasi. - Koleksi bahan bacaan terbatas (kuantitas & relevansi untuk usia).
- Koleksi buku tidak kontekstual dan kurang menarik bagi anak.
- Minim dukungan dari guru non-bahasa dan orang tua.
2. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
- Guru kesulitan merancang tugas multiliterasi bermakna (keterbatasan desain tugas dan sumber belajar).
- Guru belum memahami konsep multiliterasi dalam kegiatan proyek.
- Kegiatan P5 masih fokus pada produk, bukan proses literasi.
- Sumber dan waktu pelaksanaan proyek terbatas.
3. Integrasi dalam Pembelajaran Tematik
- Ketidak merataan kompetensi guru (variasi implementasi antar sekolah). - Keterampilan guru dalam mengintegrasikan literasi masih terbatas.
- Kurangnya media pembelajaran multiliterasi yang sesuai dengan usia anak SD. 4. Penguatan Literasi Guru
- Banyak pelatihan bersifat top-down dan transfer ke praktik kelas rendah tanpa pendampingan lanjutan.
- Akses pelatihan tidak merata, tidak semua guru terlibat dalam pelatihan multiliterasi. - Guru masih kesulitan mengaplikasikan hasil pelatihan ke kelas.
- Akses platform digital tidak merata di daerah.
5. Pemanfaatan Teknologi Digital
- Kesenjangan akses perangkat & koneksi. Digital divide antar daerah atau sekolah. - Guru belum mahir memilih atau merancang bahan digital pedagogis.
- Infrastruktur teknologi belum merata (khususnya di daerah 3T).
- Guru dan siswa masih rendah dalam literasi digital.