Sekolah Dasar dan Budaya Ranking yang Tak Pernah Usai
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Budaya ranking masih kuat di sekolah dasar. Anak-anak sejak dini dibiasakan dibandingkan satu sama lain. Prestasi diukur dengan angka dan peringkat. Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis. Pendidikan dasar perlu merefleksikan praktik ini.
Ranking sering dianggap sebagai motivasi belajar. Namun, bagi banyak anak, ranking justru menjadi sumber kecemasan. Anak takut gagal dan merasa tidak berharga. Hubungan antar siswa menjadi kompetitif. Pendidikan dasar kehilangan nilai kolaborasi.
Anak-anak memiliki potensi dan kecepatan belajar yang berbeda. Sistem ranking mengabaikan keunikan ini. Anak yang tidak unggul akademik sering terpinggirkan. Padahal, mereka mungkin unggul di bidang lain. Pendidikan dasar harus mengakui keberagaman potensi.
Penilaian seharusnya menjadi alat refleksi, bukan label. Sekolah perlu mengembangkan asesmen yang lebih humanis. Fokus pada proses belajar, bukan sekadar hasil. Anak perlu dihargai atas usaha mereka. Pendidikan dasar harus membangun kepercayaan diri anak.
Menggeser budaya ranking bukan perkara mudah. Namun, perubahan harus dimulai. Pendidikan dasar harus memprioritaskan perkembangan anak secara utuh. Sekolah bukan arena lomba, tetapi ruang belajar. Anak-anak berhak tumbuh tanpa tekanan berlebihan.
###
Penulis: Aida Meilina