Sekolah Dasar dan Krisis Keteladanan Orang Dewasa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Anak-anak sekolah dasar belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari perilaku orang dewasa. Guru dan orang tua menjadi figur utama dalam pembentukan nilai. Namun, krisis keteladanan semakin terasa di ruang publik. Anak sering menyaksikan konflik, kekerasan verbal, dan ketidakjujuran. Pendidikan dasar berada dalam situasi yang kontradiktif.
Di sekolah, anak diajarkan nilai kejujuran dan disiplin. Namun, di luar sekolah, mereka melihat contoh yang berbeda. Ketidaksesuaian ini membingungkan anak. Nilai yang diajarkan kehilangan makna ketika tidak dipraktikkan. Pendidikan dasar membutuhkan konsistensi nilai.
Guru juga manusia yang menghadapi tekanan besar. Beban kerja dan tuntutan administratif sering menguras energi. Dalam kondisi ini, keteladanan menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru di sinilah peran moral guru diuji. Anak-anak belajar dari sikap kecil yang mereka lihat setiap hari.
Krisis keteladanan tidak bisa diselesaikan dengan ceramah. Pendidikan karakter membutuhkan contoh nyata. Sekolah harus membangun budaya yang sehat. Relasi antarwarga sekolah harus dilandasi saling menghormati. Nilai harus hidup dalam keseharian.
Pendidikan dasar harus menjadi ruang pemulihan keteladanan sosial. Sekolah dapat menjadi benteng nilai di tengah krisis moral. Anak-anak membutuhkan figur yang bisa dipercaya. Keteladanan adalah kurikulum tersembunyi yang paling kuat. Pendidikan dasar tidak boleh mengabaikannya.
###
Penulis: Aida Meilina