s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perubahan wajah pendidikan digital hari ini berlangsung senyap namun masif, seolah semua sepakat bahwa layar adalah gerbang masa depan. Layanan akademik, administrasi, hingga komunikasi kini berpindah ke ruang daring yang menjanjikan kecepatan dan keteraturan. Digitalisasi sekolah hadir sebagai solusi atas kerumitan birokrasi dan keterbatasan jarak. Dalam satu sentuhan, berbagai kebutuhan dapat diakses tanpa harus berlama-lama menunggu. Gambaran ini tampak ideal dan efisien di permukaan. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan lapisan persoalan yang jarang dibicarakan secara mendalam. Data pribadi menjadi komoditas sunyi yang bergerak di balik layar.
Di satu sisi, layanan digital memudahkan banyak proses yang sebelumnya memakan waktu. Informasi akademik dapat dipantau secara real time tanpa hambatan fisik. Komunikasi menjadi lebih cair dan cepat. Namun kecepatan sering kali menutup ruang refleksi tentang apa yang dipertukarkan. Data tidak hanya berpindah, tetapi juga tersimpan dan diproses. Di sinilah risiko mulai bertumbuh.
Fenomena kebocoran data bukan lagi isu abstrak yang jauh dari keseharian. Di media sosial, cerita tentang akun yang diretas atau informasi pribadi yang tersebar sering muncul silih berganti. Video pendek di TikTok bahkan kerap membahas cara sederhana melacak data seseorang hanya dari jejak digital. Situasi ini menimbulkan kegelisahan yang perlahan menyusup ke ruang pendidikan. Data sekolah bukan sekadar angka, tetapi potret kehidupan individu. Ketika data jatuh ke tangan yang salah, dampaknya bisa berlapis.
Keamanan data sering dianggap sebagai urusan teknis yang hanya dipahami segelintir orang. Padahal, keamanan adalah fondasi dari kepercayaan terhadap sistem digital. Tanpa perlindungan yang memadai, kemudahan berubah menjadi kerentanan. Setiap sistem menyimpan celah yang dapat dimanfaatkan. Ketika celah itu terbuka, dampaknya tidak selalu langsung terasa. Namun jejaknya bisa panjang dan sulit dihapus.
Ironisnya, euforia digitalisasi sering membuat aspek keamanan berada di urutan belakang. Fokus lebih banyak diarahkan pada fitur, tampilan, dan kecepatan layanan. Keamanan dianggap sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama. Padahal data bersifat sensitif dan berjangka panjang. Sekali tersebar, ia sulit dikendalikan. Risiko ini sering diremehkan hingga benar-benar terjadi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran tentang keamanan data masih belum merata. Banyak pengguna terbiasa membagikan informasi tanpa pertimbangan panjang. Kata sandi sederhana, akses terbuka, dan izin aplikasi yang diabaikan menjadi praktik umum. Kebiasaan ini membentuk ekosistem digital yang rapuh. Sekolah sebagai ruang pembelajaran turut berada dalam ekosistem tersebut. Tanpa literasi keamanan, risiko akan terus membesar.
Digitalisasi sekolah seharusnya tidak hanya berbicara tentang kemudahan layanan. Ia juga menuntut tanggung jawab dalam melindungi data yang dipercayakan. Kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan kesadaran etis. Tanpa itu, sekolah di ujung jari justru menyimpan bahaya di balik kenyamanan. Di sanalah keseimbangan antara inovasi dan keamanan diuji.
Penulis: Resinta Aini Z.