Sekolah Ramah Lingkungan dan Dinamika Perubahan Perilaku Harian
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Sekolah ramah lingkungan tidak
dapat dilepaskan dari upaya mengubah perilaku harian secara bertahap. Perubahan
perilaku merupakan proses kompleks yang melibatkan kesadaran, kebiasaan, dan
lingkungan sosial. Banyak inisiatif lingkungan gagal bukan karena konsepnya
keliru, tetapi karena perubahan perilaku tidak terkelola dengan baik. Perilaku
lama sering lebih kuat daripada niat baru. Oleh karena itu, pendekatan ramah
lingkungan perlu memahami dinamika perubahan tersebut. Fokus tidak hanya pada apa
yang harus dilakukan, tetapi bagaimana perubahan itu terjadi. Di sinilah
pentingnya melihat sekolah ramah lingkungan sebagai proses adaptif. Proses ini
berlangsung dalam keseharian yang penuh dinamika.
Perubahan perilaku jarang terjadi secara drastis. Ia
biasanya dimulai dari penyesuaian kecil yang terasa mungkin dilakukan. Ketika
penyesuaian tersebut berhasil, kepercayaan diri meningkat. Keberhasilan kecil
mendorong keberanian untuk melangkah lebih jauh. Dalam konteks ramah
lingkungan, langkah kecil sering menjadi pintu masuk perubahan besar.
Pendekatan bertahap ini lebih realistis dan berkelanjutan.
Dinamika perubahan juga dipengaruhi oleh kebiasaan
lama yang sudah mengakar. Kebiasaan tersebut sering berlangsung secara otomatis
tanpa disadari. Mengubahnya membutuhkan kesadaran dan niat yang kuat. Sekolah
ramah lingkungan perlu menciptakan momen reflektif yang membantu individu
menyadari kebiasaan mereka. Kesadaran ini menjadi titik awal perubahan. Tanpa
kesadaran, perilaku sulit diubah.
Lingkungan sosial memainkan peran signifikan dalam
dinamika perubahan perilaku. Dukungan sosial dapat mempercepat adopsi kebiasaan
baru. Sebaliknya, resistensi sosial dapat menghambat perubahan. Ketika perilaku
ramah lingkungan didukung secara kolektif, individu merasa lebih termotivasi.
Dukungan ini menciptakan rasa kebersamaan dalam perubahan. Dari sinilah
perubahan perilaku memperoleh daya dorong.
Selain dukungan sosial, penguatan positif juga
penting. Perilaku yang diapresiasi cenderung diulang. Apresiasi tidak harus selalu
berbentuk penghargaan formal. Pengakuan sederhana sering kali cukup untuk
memperkuat kebiasaan baru. Penguatan positif membantu perilaku ramah lingkungan
bertahan dalam jangka panjang. Ia memperkuat hubungan antara tindakan dan
kepuasan personal.
Dinamika perubahan perilaku juga melibatkan fase
kemunduran. Tidak semua upaya berjalan mulus. Ada saat ketika kebiasaan lama
kembali muncul. Memahami fase ini membantu menjaga komitmen. Perubahan perilaku
bukan garis lurus, melainkan proses berliku. Kesabaran menjadi kunci dalam
perjalanan ini.
Pada akhirnya, sekolah ramah lingkungan bergantung
pada kemampuan mengelola dinamika perubahan perilaku harian. Program dan konsep
hanya menyediakan kerangka awal. Perubahan nyata terjadi dalam keseharian yang
penuh tantangan. Ketika dinamika ini dipahami dan dikelola, kebiasaan ramah
lingkungan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah