Simulakra Pendidikan: Ketika "Viral" Menjadi Ukuran Kebenaran bagi Anak SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam
perspektif teori simulakra, kita sedang menghadapi kondisi di mana citra atau
representasi digital dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri, dan
inilah yang sedang terjadi secara nyata di ruang kelas kita. Siswa mulai
mengadopsi standar kebenaran baru yang didasarkan pada popularitas digital;
sesuatu dianggap benar jika sudah viral, dan dianggap salah atau tidak penting
jika tidak masuk dalam tren media sosial. Realitas pendidikan kita sedang
bergeser ke arah superfisialitas yang mengkhawatirkan, di mana jumlah likes
dan shares menjadi legitimasi semu atas informasi yang disampaikan oleh
siapa pun di layar.
Kecenderungan ini sangat
berbahaya bagi perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar yang secara
psikologis belum memiliki kemampuan penalaran logis-formal yang matang untuk
membedakan antara fakta dan opini. Anak-anak cenderung menerima informasi secara
holistik tanpa melakukan dekonstruksi kritis, sehingga jika seorang tokoh
digital memberikan penjelasan yang salah namun memukau secara visual, hal itu
akan tertanam sebagai kebenaran primer. Guru sering kali harus berjuang ekstra
keras untuk menghapus miskonsepsi yang telanjur "terpatri" di pikiran
siswa akibat paparan konten yang dikemas secara manipulatif namun terlihat
sangat meyakinkan.
Dampak jangka panjang
dari fenomena ini adalah melemahnya kemampuan berpikir skeptis dan analitis,
yang pada gilirannya akan melahirkan generasi yang sangat mudah digerakkan oleh
tren atau agitasi digital. Guru di sekolah sering kali merasa kewalahan karena
beban kerja mereka bertambah menjadi "petugas verifikasi" yang harus
terus-menerus meluruskan hoaks yang dibawa siswa dari rumah ke sekolah. Jika
sekolah tidak segera mengambil peran aktif dalam mengatur pola konsumsi digital
siswa, maka fungsi edukasi akan sepenuhnya diambil alih oleh kepentingan
komersial di balik platform digital.
Oleh karena itu, literasi
media digital tidak boleh lagi dianggap sebagai materi pelengkap, melainkan
harus diintegrasikan sebagai napas utama dalam setiap mata pelajaran di tingkat
sekolah dasar. Siswa harus diajak untuk memahami bagaimana sebuah konten
diciptakan dan mengapa mereka tidak boleh langsung percaya pada representasi
visual yang nampak sempurna. Pendidikan harus mampu memberikan alat bagi
anak-anak untuk membongkar "sihir" media sosial sehingga mereka bisa
kembali berpijak pada logika ilmiah dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan
secara akademik.
Perjuangan guru saat ini
adalah perjuangan memenangkan kembali otoritas intelektualnya melalui
pendekatan komunikasi yang lebih cair dan tidak lagi bersifat satu arah. Hal
ini memerlukan perubahan mindset yang radikal di kalangan pendidik agar lebih
terbuka terhadap perkembangan tren, tanpa harus kehilangan integritas sebagai
ilmuwan. Jika guru terus bersikap defensif atau menutup mata terhadap budaya
digital, maka mereka akan semakin terisolasi dalam menara gading yang tidak
lagi dihiraukan oleh muridnya sendiri.
Pendidikan harus tetap
menjadi benteng terakhir yang menjaga nalar sehat bangsa dari gempuran
informasi yang dangkal dan hanya mengejar sensasi. Menyelamatkan siswa dari
jebakan simulakra digital berarti memberikan mereka kemampuan untuk melihat
dunia apa adanya, bukan melalui filter aplikasi yang mengubah realitas. Hanya
dengan cara inilah, sekolah dapat melahirkan warga negara yang tidak hanya
cerdas secara digital, tetapi juga memiliki integritas intelektual yang kokoh
untuk menghadapi tantangan masa depan.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah