Sinergi yang Retak: Tantangan Komunikasi Sekolah dan Orang Tua ABK
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keberhasilan sekolah inklusif sangat bergantung pada sinergi yang kokoh antara guru dan orang tua, namun kenyataannya, kesenjangan ekspektasi seringkali memicu keretakan komunikasi yang merugikan siswa. Banyak orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) yang menuntut hasil akademik instan setara dengan siswa reguler, sementara di sisi lain, sekolah seringkali merasa kewalahan tanpa dukungan penanganan di rumah. Sinergi yang retak ini menciptakan lingkungan yang tidak sehat, di mana terjadi saling lempar tanggung jawab atas hambatan perkembangan anak yang seharusnya ditangani secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Fakta menunjukkan bahwa perkembangan yang telah dicapai siswa di sekolah seringkali kembali ke titik nol karena tidak adanya kesinambungan pola asuh dan latihan di lingkungan keluarga. Orang tua terkadang merasa tugas mendidik sepenuhnya adalah tanggung jawab sekolah inklusif begitu mereka membayar biaya pendidikan atau mendaftarkan anak mereka. Kondisi ini menuntut adanya redefinisi peran orang tua bukan sebagai konsumen pendidikan, melainkan sebagai mitra pendidik yang aktif dalam memantau dan memperkuat kemandirian anak melalui instruksi yang konsisten antara sekolah dan rumah.
Analisis sosiologi pendidikan dasar mengungkapkan bahwa kendala komunikasi ini diperparah oleh stigma yang masih dirasakan orang tua terhadap kondisi anak mereka sendiri, yang berujung pada penyangkalan (denial) terhadap hasil asesmen sekolah. Guru seringkali kesulitan menyampaikan laporan jujur mengenai hambatan siswa karena takut menyinggung perasaan orang tua atau memicu konflik yang berkepanjangan. Tanpa adanya keterbukaan dan penerimaan total dari pihak keluarga, Program Pembelajaran Individual (PPI) yang disusun sekolah hanya akan menjadi dokumen administratif yang tidak pernah terealisasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Di sisi lain, sekolah inklusif juga seringkali kurang transparan dalam memberikan laporan kemajuan kualitatif kepada orang tua, lebih memilih memberikan nilai angka yang "aman" namun tidak mencerminkan realitas. Orang tua membutuhkan umpan balik yang detail mengenai perilaku, interaksi sosial, dan keterampilan hidup anak mereka, sesuatu yang tidak bisa diberikan hanya melalui raport digital standar. Penjagaan mutu pendidikan tinggi sangat bergantung pada kemampuan guru memberikan sentuhan personal dalam komunikasi ini, guna membangun kepercayaan yang menjadi fondasi utama dalam mendidik anak dengan hambatan yang kompleks.
Isu integritas komunikasi menjadi sorotan tajam ketika terjadi insiden di sekolah, di mana seringkali terjadi perbedaan versi cerita yang membuat suasana kelas menjadi tegang dan penuh kecurigaan. Sekolah dituntut memiliki sistem pelaporan harian yang akurat dan berbasis data guna menghindari kesalahpahaman yang dapat merusak nama baik sekolah maupun mental siswa. Hanya dengan interaksi mendalam yang mengedepankan objektivitas, peran sekolah sebagai penjaga nalar bagi ABK dapat berjalan seiring dengan harapan orang tua untuk melihat anak mereka berkembang secara optimal.
Reformasi dalam pelibatan keluarga memerlukan penyediaan waktu khusus bagi guru untuk melakukan kunjungan rumah (home visit) atau sesi konsultasi rutin yang berkualitas tanpa terganggu beban mengajar. Bagaimana seorang guru bisa membangun kemitraan yang kuat jika waktunya habis untuk urusan birokrasi kampus atau laporan aplikasi kementerian yang repetitif? Tanpa dukungan sistemik yang memerdekakan waktu guru untuk berdialog, hubungan sekolah dan orang tua akan selamanya terjebak dalam pola transaksional yang dingin dan tidak produktif bagi masa depan intelektual anak bangsa.
Sebagai penutup, tantangan besar dalam pendidikan inklusif adalah perjuangan untuk tetap menjadi manusia yang saling mendukung di tengah kesulitan dalam mendidik anak yang berbeda. Menjadi penjaga nalar berarti bersedia menginvestasikan waktu untuk menjembatani komunikasi yang retak demi kepentingan terbaik siswa. Guru dan orang tua tidak boleh menyerah untuk saling memahami, karena di tangan kolaborasi merekalah masa depan peradaban yang inklusif diletakkan. Jika komunikasi berhenti, maka universitas kehidupan hanya akan menghasilkan generasi yang gagap dalam berinteraksi sosial dan hampa akan empati kemanusiaan yang mendalam.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah