Strategi Belajar Mandiri: Mengintegrasikan YouTube dan Canva dalam Proyek Sains Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Metode pembelajaran
berbasis proyek (Project-Based Learning) kini semakin populer di jenjang
sekolah dasar karena mampu melatih kreativitas sekaligus kemandirian siswa
dalam memecahkan masalah. Dalam sebuah proyek bertema “Ekosistem Lokal”, siswa
kelas 6 ditugaskan untuk mencari informasi mengenai berbagai jenis flora dan
fauna melalui kanal-kanal edukasi di YouTube sebagai langkah awal riset mereka.
Setelah mengumpulkan data visual dan fakta ilmiah dari video tersebut, siswa
kemudian diminta untuk merangkum dan menyajikannya dalam bentuk presentasi
digital yang estetik menggunakan aplikasi Canva. Kolaborasi dua platform
digital ini menciptakan siklus belajar yang komprehensif, mulai dari tahap
pencarian informasi secara audio-visual hingga tahap kreasi desain yang
menarik.
Pemanfaatan
YouTube dalam proyek ini sangat membantu siswa untuk mendapatkan gambaran nyata
tentang interaksi mahluk hidup di alam liar yang sulit diamati secara langsung
di sekitar sekolah. Guru memberikan daftar putar (playlist) video
pilihan yang sudah diverifikasi isinya untuk memastikan siswa mendapatkan
informasi yang akurat secara ilmiah dan bahasa yang mudah dipahami. Dengan
menonton video eksperimen atau dokumentasi alam, siswa dapat mencatat poin-poin
penting, mengambil tangkapan layar untuk referensi visual, dan belajar
bagaimana menyampaikan sebuah informasi sains dengan alur cerita yang menarik
seperti yang dilakukan oleh para kreator konten edukasi profesional di platform
tersebut.
Setelah
tahap riset selesai, siswa beralih menggunakan Canva untuk mengolah temuan
mereka menjadi sebuah karya presentasi yang komunikatif. Di dalam aplikasi
desain ini, siswa belajar menyusun elemen-elemen grafis seperti ikon, diagram,
dan teks penjelasan untuk mendukung data yang mereka dapatkan sebelumnya.
Kemudahan fitur drag-and-drop pada platform tersebut memungkinkan siswa
sekolah dasar untuk mengeksplorasi sisi artistik mereka dalam menyajikan data
sains, sehingga hasil akhirnya bukan hanya sekadar tumpukan tulisan, melainkan
sebuah media informasi yang menarik secara visual. Proses ini sangat efektif
untuk mengasah kecerdasan spasial dan kemampuan literasi visual siswa, di mana
mereka belajar bahwa cara penyampaian informasi sama pentingnya dengan isi
informasi itu sendiri.
Sinergi
antara riset video dan desain digital ini juga terbukti meningkatkan
keterlibatan siswa laki-laki dan perempuan secara seimbang karena menawarkan
aktivitas belajar yang bervariasi dan tidak monoton. Siswa merasa memiliki
tanggung jawab penuh atas proyek mereka, mulai dari pemilihan video referensi
hingga pemilihan palet warna dalam desain presentasi. Di akhir proyek, setiap
siswa mempresentasikan karya mereka di depan kelas menggunakan proyektor, yang
kemudian didiskusikan bersama teman-teman sekelasnya. Pengalaman ini memberikan
rasa percaya diri yang besar bagi siswa sekolah dasar karena mereka merasa
telah mampu menghasilkan sebuah produk digital yang berkualitas tinggi dan
bermanfaat bagi pengetahuan orang lain.
Secara
keseluruhan, kombinasi penggunaan platform video dan aplikasi desain di sekolah
dasar merupakan contoh nyata dari integrasi teknologi yang bermakna dalam
pendidikan. Sekolah dasar bukan lagi tempat yang anti teknologi, melainkan
laboratorium tempat siswa belajar cara menggunakan alat digital untuk tujuan
yang positif dan produktif. Dengan membiasakan siswa menggunakan teknologi
untuk riset dan kreasi, sekolah sedang menyiapkan mereka dengan keterampilan
fundamental yang dibutuhkan di jenjang pendidikan selanjutnya. Keberhasilan
integrasi ini menunjukkan bahwa saat teknologi diarahkan dengan tepat oleh guru
yang kreatif, kualitas hasil belajar siswa sekolah dasar dapat meningkat secara
signifikan, baik dari segi pemahaman materi maupun penguasaan keterampilan
digital.
###
Penulis : Maulidia Evi Aprilia